Peugeot 206 bekas masih menjadi pilihan menarik bagi pecinta mobil Eropa di Indonesia berkat desain khas, dimensi kompak, dan harga yang relatif terjangkau.
Namun, calon pembeli disarankan untuk tetap teliti, terutama pada bagian sistem elektronik atau Electronic Control Unit (ECU).
>>> FIFA Jelaskan Kontroversi Penalti Swiss vs Qatar Akibat Gangguan Teknis
Hadi Taruna, pemilik EngineBlock Autoworks, menekankan pentingnya memeriksa kondisi dan riwayat perbaikan ECU pada Peugeot 206 bekas.
"Kalau dari sisi ECU, biasanya memang ditanyakan dulu. Sebab, salah satu hal yang sering ditemui pada Peugeot 206 ada di bagian ECU," kata Hadi.
Ia menjelaskan bahwa sering ditemuinya isu pada ECU bukan berarti komponen tersebut rentan rusak parah, melainkan karena usia mobil yang sudah cukup tua.
"Bukan berarti sering rusak, tetapi karena usia mobil yang sudah cukup lama, banyak ECU yang sudah pernah diperbaiki," ujarnya.
Peugeot 206 sendiri pertama kali dipasarkan di Indonesia pada periode 2000 hingga 2006 dan sempat menjadi tulang punggung penjualan Peugeot di segmen hatchback.
Menurut Hadi, salah satu penyebab penurunan performa ECU berkaitan dengan letaknya yang berada di dalam ruang mesin.
"Penyebabnya, posisi ECU berada di ruang mesin dan board atau PCB ECU dicor. Karena terpapar panas terus-menerus, ada kemungkinan beberapa komponennya mengalami penurunan fungsi atau meleleh," jelas Hadi.
Penurunan kondisi ECU dapat memengaruhi komponen mekanikal atau elektrikal lainnya, seperti injektor atau koil, sehingga menimbulkan gangguan.
Oleh karena itu, calon konsumen disarankan untuk menanyakan langsung kepada pemilik sebelumnya mengenai riwayat perbaikan komponen ini.
>>> Natalius Pigai Bantah Usulan Anggaran Kantor Baru Kementerian HAM
"Karena itu tanyakan ke pemilik mobil adalah apakah ECU sudah pernah diperbaiki atau belum," katanya.