Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan kebutuhan insentif program biodiesel untuk tahun 2026 turun menjadi Rp 32 triliun.
Alokasi dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tersebut disiapkan untuk mendukung penerapan mandatori B40 hingga peluncuran B50.
>>> Hizbullah Klaim Hancurkan Tiga Tank Israel di Lebanon Selatan
Penyusutan nilai insentif terjadi karena menyempitnya selisih harga antara biodiesel berbasis fatty acid methyl ester (FAME) dengan minyak solar di pasar global.
Bahkan, tingginya harga solar dalam beberapa periode membuat kompensasi dari BPDP tidak diperlukan karena disparitas harga yang mengecil.
Penurunan nilai anggaran pembiayaan ini dikonfirmasi langsung oleh Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi.
"Berkurang. Tadinya Rp 47 triliunan, menjadi Rp 32 triliun," kata Eniya di Jakarta.
Pemerintah menjelaskan bahwa dana kelolaan program ini bukan bersumber dari anggaran belanja negara, melainkan dari dana pungutan sawit.
Fluktuasi harga minyak mentah dunia menjadi faktor penentu utama yang terus dipantau secara ketat oleh kementerian terkait.
"Karena memang harga selisihnya insentifnya kan enggak ada.
Jadi karena solarnya lebih tinggi, terus malah FAME itu membantu karena selisih yang dibayarnya jadi tidak ada insentif," ujar Eniya.
Otoritas berwenang menetapkan proyeksi ini berdasarkan kalkulasi pergerakan harga solar yang diperkirakan masih bertahan di level tinggi.
Fleksibilitas anggaran tetap disiapkan guna mengantisipasi dinamika pasar komoditas pada paruh kedua tahun ini.
"Nah itu tergantung nanti harga minyaknya. Tapi kita berhitungnya masih rada naik, masih rada tinggi solarnya.
>>> Biaya Pasang GPS Mobil Mulai Rp 1 Juta, Tergantung Fitur
Hitungan kami insentif nanti hanya di sekitaran Rp 32,3 triliun untuk setahun," kata Eniya.
Meskipun ada penyesuaian anggaran, kesiapan teknis peluncuran bahan bakar baru berbasis sawit ini diklaim telah memenuhi standar operasional.