Konsep mengenai aturan global harus mempertimbangkan pandangan China yang lebih menekankan kepentingan kolektif daripada individu, serta ikut menyertakan dunia Muslim yang berakar pada komunitas umat beriman.
Meski demikian, di dalam setiap model tetap terdapat perbedaan dan konflik internal, seperti perbedaan antara Islam Sunni dan Syiah.
Bertahan di Kandang Serigala
Untuk menghadapi dunia yang baru ini, Saxer menawarkan tiga prinsip utama.
Pertama, kerja sama tidak hanya melibatkan negara-negara besar atau menengah, tetapi juga negara kecil seperti Selandia Baru, Norwegia, atau Singapura.
Setiap negara yang bersedia menangani persoalan global secara proaktif dan konstruktif harus dilibatkan.
Kedua, kerja sama sebaiknya tidak dibangun sebagai sebuah aliansi yang berpotensi menciptakan blok-blok baru, melainkan sebagai "kemitraan poros tengah".
Ketiga, penyelesaian tantangan global tidak dapat hanya bergantung pada koalisi negara demokrasi yang memiliki kesamaan nilai.
Kemitraan tersebut harus membuka ruang bagi semua negara yang berorientasi pada solusi, tanpa memandang sistem politik domestiknya.
Helsinki 2.0
Pendekatan pragmatis ini melampaui politik luar negeri yang semata-mata didasarkan pada kesamaan nilai. Jika sebelumnya negara mencari "mitra yang sepemikiran", kini yang lebih penting adalah menemukan "mitra kepentingan".
Negara dapat bekerja sama dalam isu yang memiliki kepentingan bersama, seperti perubahan iklim atau kesehatan global, namun bersikap berbeda dalam isu lain.
Meski demikian, prinsip-prinsip mendasar seperti hak asasi manusia tetap harus dijaga.
Untuk mencapai hal tersebut, Saxer membayangkan konsep "Helsinki 2.0".
Dia merujuk pada Konferensi Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (KSZE) pada awal 1970-an ketika Amerika Serikat, Uni Soviet, negara-negara NATO, dan negara-negara Pakta Warsawa menyepakati prinsip bersama yang kemudian dikenal sebagai Deklarasi Helsinki.
Kesepakatan itu bukan perjanjian hukum yang mengikat, tetapi menjadi kerangka pengelolaan keamanan dengan prinsip "universalisme tanpa campur tangan".