Menurut Saxer, pendekatan serupa kembali relevan di era sekarang.
Fragmentasi Geopolitik
Namun, Kleine-Brockhoff meragukan stabilitas model seperti itu. Menurutnya, setiap tatanan membutuhkan kekuatan militer yang mampu menjaga aturan dan memastikan aturan tersebut ditaati.
Kemitraan yang hanya didasarkan pada kepentingan dinilai rapuh. Negara-negara mungkin bekerja sama dalam kebijakan iklim, tetapi saling berhadapan dalam persoalan keamanan.
Karena itu, dia melihat kemungkinan munculnya dunia multi-tatanan: berbagai model tatanan hidup berdampingan dengan kemampuan terbatas untuk mempengaruhi pihak lain.
Contohnya adalah kelompok negara yang memiliki pandangan serupa seperti Uni Eropa, Jepang, dan Australia, tetapi pengaruhnya kemungkinan hanya terbatas pada lingkaran sendiri.
Masa Sulit bagi Kepentingan Masyarakat Dunia
Konsekuensi dari fragmentasi dunia ini adalah semakin sulitnya menjaga kepentingan publik global.
Upaya membatasi perubahan iklim, mengelola ancaman kesehatan seperti pandemi, serta menjaga perdamaian internasional akan menjadi semakin rumit.
Kleine-Brockhoff memperingatkan munculnya era "penumpang gelap tanpa akhir", ketika aktor-aktor internasional lebih memilih menikmati keuntungan sendiri daripada ikut menanggung tanggung jawab bersama.
Untuk mencegah skenario itu, Saxer melihat tidak ada pilihan selain membangun kerja sama pragmatis antarnegara yang memiliki kepentingan yang bertemu.
>>> IONext.ai Luncurkan IONA dan Orbit untuk Integrasi AI Skala Besar
Konsep realisme transformatif yang ia tawarkan dianggap sebagai jalan untuk mengintegrasikan berbagai pandangan mengenai tatanan dunia setelah berakhirnya era liberal, sambil menghindari kembalinya politik blok seperti pada masa Perang Dingin.