Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot ditutup melemah 0,06 persen ke level Rp17.804 per dolar AS pada perdagangan Jumat (19/6/2026).
Pelemahan ini dipicu oleh sentimen global yang kuat, terutama sinyal kebijakan moneter dari bank sentral AS, Federal Reserve.
>>> Real Madrid Bantah Rumor Transfer Michael Olise dari Bayern Munchen
Berdasarkan data Investasi.
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah tertahan di posisi Rp17.826 per dolar AS, sama dengan penutupan perdagangan sebelumnya.
Faktor Pemicu Pelemahan Rupiah
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menyebutkan tiga faktor utama yang memengaruhi pasar.
Faktor tersebut meliputi kebijakan devisa baru BI per 1 Juli 2026, ketidakpastian geopolitik Timur Tengah pasca-kesepakatan AS dan Iran, serta hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC).
Menurut Sutopo, rupiah kemungkinan besar masih akan bergerak dalam rentang konsolidasi yang fluktuatif, diperkirakan di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS.
>>> Seskab Teddy Luncurkan Kompetisi Gagasan Setkab Gengs untuk Inovasi Pegawai
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menambahkan bahwa sentimen global masih menjadi faktor utama pergerakan rupiah.
Meskipun Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen, rupiah belum mampu berbalik menguat.
Sejak Mei 2026, total kenaikan suku bunga acuan BI mencapai 100 basis poin untuk menjaga daya tarik aset finansial dalam negeri.
Amru menjelaskan bahwa penguatan dolar AS juga ditopang oleh tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
>>> Ekonom: Kenaikan BI Rate Tahan Pertumbuhan Ekonomi 2026
Pelaku pasar akan memantau perkembangan pemulihan jalur pelayaran di Selat Hormuz serta hubungan AS-Iran, harga minyak dunia, dan sentimen terkait MSCI.