Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap temuan kandungan gula yang cukup tinggi pada berbagai minuman cepat saji yang dijual di pinggir jalan.
Pemeriksaan dilakukan pada Kamis (18/6/2026) menggunakan metode Nutri-Level dan pengujian Laboratorium Saraswanti Indo Genetech (SIG) di Bogor.
>>> Warga Ambon Konvoi Rayakan Kemenangan Timnas Belanda atas Swedia
Sampel yang diuji meliputi es teh seharga Rp 5.000, es kopi susu, dan es cendol.
Hasil pengujian menunjukkan kadar gula es teh mencapai 5 gram per 100 mililiter, es kopi susu sebesar 9 gram per 100 mililiter, dan es cendol menyentuh angka 12 gram per 100 mililiter.
"Sering jajan minuman di pinggir jalan, tapi enggak tahu kan isinya sebenarnya bagaimana?" kata Budi Gunadi Sadikin melalui akun Instagram pribadinya.
Menteri Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan total volume kemasan.
Es teh berukuran 600 mililiter mengandung total gula 30 gram, dari batas aman 50 gram per hari. "Hasil cek dari Lab SIG adalah 5 gram per 100 ml.
Cuma teman-teman ingat, kemasan ini 600 ml," ujar Budi.
Kandungan gula es teh tersebut membuatnya masuk dalam kategori Nutri-Level C. Sementara itu, es kopi susu ukuran 600 mililiter memiliki total gula mencapai 54 gram.
>>> Jepang Ungguli Tunisia Dua Gol pada Babak Pertama Piala Dunia 2026
"Saat dites di Lab SIG, gulanya 9 gram per 100 ml.
Jadi total 600 ml ini 54 gram gula, sudah lewat batas sehari kadar gula yang boleh kita minum," kata Budi.
Akibatnya, es kopi susu mendapatkan kategori Nutri-Level D.
Es cendol berukuran 400 mililiter memiliki total gula 48 gram.
"Hasil tes menunjukkan kadar gulanya tembus 12 gram per 100 ml, jadi totalnya 48 gram gula," ujar Budi.
Kandungan pemanis yang mendominasi membuat es cendol juga masuk kategori D.
"Bayangin nih, ini sebenarnya adalah es gula yang dikasih cendol," kata Budi. Penerapan Nutri-Level bertujuan memberikan pemahaman langsung kepada konsumen mengenai asupan gula harian mereka.
>>> FIM Larang Marco Bezzecchi Balapan di MotoGP Republik Ceko 2026
Melalui data laboratorium tersebut, publik diharapkan lebih waspada terhadap potensi asupan gula besar dari minuman jalanan sebelum menjadikannya kebiasaan harian.