⌂ Beranda News Kementerian PU Bentuk Satgas Khusus Antisipasi Dampak El Nino

Kementerian PU Bentuk Satgas Khusus Antisipasi Dampak El Nino

Kementerian PU Bentuk Satgas Khusus Antisipasi Dampak El Nino
Ilustrasi Kementerian PU bentuk satgas antisipasi El Nino
A A Ukuran Teks16px

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membentuk satuan tugas khusus untuk mengantisipasi dampak kekeringan akibat fenomena El Nino di Indonesia.

Satgas ini diumumkan pada Jumat (19/6/2026) dan melibatkan koordinasi lintas direktorat jenderal di lingkungan kementerian.

>>> Brasil Hajar Haiti 3-0 di Piala Dunia 2026, Endrick Debut

Menteri PU Dody menjelaskan bahwa pembentukan struktur baru ini diperlukan karena penanganan kekeringan melibatkan berbagai unsur internal instansi.

"Karena di sini sudah ada lintas Direktorat Jenderal, ada SDA, ada Cipta Karya, dan seterusnya. Makanya saya merasa perlu ada Satgas khusus," kata Dody.

Upaya awal sebenarnya telah berjalan melalui Direktorat Sumber Daya Air (SDA) yang melakukan pengeboran sumur dalam pada sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan.

Wilayah penanganan mencakup berbagai daerah di Indonesia dan tidak terbatas pada lokasi yang selama ini dikenal gersang.

"Di Jawa pun ada, misalnya di Gunung Kidul. Di Gunung Kidul itu kita beberapa titik juga melakukan pengeboran.

Jadi di semua titik. Tidak cuma tempat-tempat yang terkenal kering misalnya NTT, tapi juga di tempat-tempat lain juga begitu," tegas Dody.

Selain pengeboran, Direktorat SDA mendapatkan instruksi untuk membangun sarana jaringan irigasi tersier. Infrastruktur ini difokuskan untuk mengalirkan air ke kawasan persawahan dan perkebunan secara lebih efisien.

Langkah tersebut diambil karena area pertanian saat ini dinilai masih didominasi oleh sistem pengairan konvensional.

Akibatnya, distribusi air menuju lahan yang berada di posisi paling ujung memerlukan waktu yang cukup lama.

>>> Menteri Keuangan Pamerkan Ketangguhan Ekonomi Indonesia di China

Penerapan jaringan irigasi minimal tingkat tersier diproyeksikan mampu mempercepat distribusi pasokan air sekaligus menghemat volume penggunaan air di lapangan.

"Karenanya saya minta dibangunkan jaringan irigasi tersier, minimum tersier, karena tersier itu saya bilang sih paling gampang lah," tegas Dody.

Kesiapan logistik menghadapi cuaca ekstrem ini juga didukung oleh sektor hulu pertanian.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa pemerintah memiliki stok pangan yang memadai untuk menghadapi ancaman kemarau panjang tersebut.

Berdasarkan data kementerian terkait, cadangan beras nasional terhitung hingga Juni 2026 berada pada angka 5,2 juta ton.

Sementara itu, stok beras yang tersebar di sektor perhotelan, rumah tangga, dan restoran mencapai 12,5 juta ton.

"Artinya dengan cadangan ini, tiga-tiganya, itu bisa 10-11 bulan ke depan. Kalau anggaplah yang terendah adalah 10 bulan ke depan, artinya sampai dengan bulan April.

Juli sampai April itu 10 bulan ke depan," tambah Andi Amran Sulaiman.

Pemerintah turut menyiapkan berbagai infrastruktur penunjang pertanian guna menekan risiko fenomena El Nino.

>>> Gelisah Penumpang Menghadapi Wacana Tarif Baru Transjakarta

Program mitigasi tersebut direalisasikan lewat pembangunan embung, pompanisasi, penyediaan pompa irigasi, sumur dalam, optimalisasi lahan, hingga pembukaan lahan sawah baru.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru