Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) bersama mitra Eropa tengah memantau penumpukan besar air hangat di Samudra Pasifik.
Fenomena ini berpotensi menjadi sinyal kuat kedatangan El Nino pada akhir tahun ini.
>>> Norwegia ke 32 Besar Piala Dunia 2026, Rayakan dengan Selebrasi Viking
Data dari satelit Sentinel-6 Michael Freilich menunjukkan adanya hamparan luas air hangat yang tidak biasa, membentang ratusan kilometer hingga perairan lepas pantai Amerika Selatan.
El Nino diketahui dapat membawa dampak luas, mulai dari curah hujan berlebihan di satu wilayah hingga kekeringan ekstrem di wilayah lain.
Pergeseran pola cuaca ini berpotensi memengaruhi sektor pertanian, transportasi, ketersediaan sumber daya air, hingga perekonomian global.
Satelit Sentinel-6 Michael Freilich, yang diluncurkan pada 2020 oleh NASA dan dipimpin oleh European Space Agency (ESA) untuk Program Copernicus Uni Eropa, memiliki peran krusial dalam memantau ketinggian permukaan laut.
Alat ini mengukur permukaan laut di seluruh samudra dunia setiap sepuluh hari dengan tingkat presisi tinggi.
Salah satu fungsi utamanya adalah melacak fitur perairan hangat yang dikenal sebagai gelombang Kelvin. Fenomena ini sangat terkait erat dengan perkembangan El Nino.
Bagaimana El Nino Terbentuk
Gelombang Kelvin biasanya dimulai ketika pola angin di wilayah Pasifik ekuator bagian barat berbalik arah secara singkat.
Alih-alih angin timur yang bertiup dari timur ke barat, terjadi perkembangan angin barat.
Kondisi ini, dikombinasikan dengan melemahnya angin timur secara luas di khatulistiwa, menyebabkan perairan tropis Pasifik barat menghangat dan permukaan laut naik.
>>> Persib Lepas Sergio Castel, Pemain Asing Ketiga yang Pergi Musim Ini
Gelombang air hangat ini kemudian bergerak ke timur melintasi Pasifik selama beberapa minggu.
Ketika mencapai Amerika Selatan, suhu samudra dan permukaan laut di dekat pantai akan meningkat.