Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa kembali memecahkan rekor suhu di sejumlah negara.
Fenomena ini tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga melumpuhkan transportasi, membebani rumah sakit, hingga mengganggu pasokan listrik.
>>> Harga Meroket, Penjualan PS5 Anjlok: Terburuk dalam 25 Tahun
Para ilmuwan menilai gelombang panas kali ini hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Mereka menyebut suhu ekstrem seperti ini akan semakin sering muncul jika pemanasan global terus berlanjut.
Sejak mulai melanda pada 20 Juni, suhu di berbagai wilayah Eropa terus meningkat.
Jerman, Polandia, Republik Ceko, Denmark, hingga Hungaria mencatat rekor suhu baru dengan temperatur di sejumlah lokasi menembus 40 derajat Celsius.
Di Jerman bahkan tercatat suhu lebih dari 41 derajat Celsius, memecahkan rekor nasional yang baru dibuat sehari sebelumnya.
Transportasi dan Listrik Terdampak
Beberapa layanan kereta di Jerman dikurangi karena suhu tinggi dapat memengaruhi rel. Operasional trem di sejumlah kota juga dihentikan sementara.
Di Swedia, rel kereta dilaporkan melengkung akibat panas sehingga mengganggu perjalanan.
Sementara di Prancis dan Swiss, beberapa reaktor nuklir harus dikurangi kapasitasnya karena air sungai yang digunakan sebagai pendingin ikut menghangat.
Italia juga menghadapi ancaman lain.
Air laut mulai masuk ke Sungai Po akibat debit air yang menurun, meningkatkan kadar garam dan mengganggu sektor pertanian.
Dampak terbesar dirasakan sektor kesehatan.
Rumah sakit di berbagai negara melaporkan lonjakan pasien akibat dehidrasi, serangan panas (heat stroke), hingga memburuknya penyakit kronis.
Prancis menjadi negara yang paling terdampak.
Otoritas kesehatan setempat melaporkan sekitar 1.000 kematian berlebih (excess deaths) selama gelombang panas, dengan mayoritas korban berusia di atas 65 tahun.
>>> Jerman Tutup Kuping soal Kritik, Yakin Bisa Kalahkan Paraguay