⌂ Beranda News BPS: 35,36 Persen Pekerja Muda Alami Mismatch Pendidikan

BPS: 35,36 Persen Pekerja Muda Alami Mismatch Pendidikan

BPS: 35,36 Persen Pekerja Muda Alami Mismatch Pendidikan
Ilustrasi pekerja muda Indonesia menghadapi mismatch pendidikan
A A Ukuran Teks16px

Sebaliknya, kelompok undereducated memiliki peluang 10,26 persen lebih lambat memperoleh pekerjaan.

Faktor Gender dan Geografis

BPS menemukan pemuda perempuan memiliki peluang 9,47 persen lebih lambat memperoleh pekerjaan dibandingkan laki-laki.

Pemuda berpendidikan tinggi yang tinggal di Pulau Jawa serta kawasan perkotaan cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk masuk pasar kerja karena tingginya persaingan.

Data LPEM FEB UI memperlihatkan rata-rata durasi transisi kerja di wilayah non-Jawa mencapai 23,38 bulan, lebih panjang dibandingkan Jawa yang sebesar 17,40 bulan.

Pencari kerja di desa membutuhkan waktu sekitar 23,27 bulan, lebih lama dibandingkan wilayah kota yang sebesar 18,70 bulan.

Pentingnya Sertifikasi dan Keterampilan Digital

Studi BPS mengungkapkan bahwa ijazah formal bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan di pasar kerja. Kepemilikan sertifikasi keahlian mampu menurunkan peluang terjadinya mismatch.

Partisipasi dalam pelatihan berbasis keterampilan seperti Kartu Prakerja terbukti mengurangi risiko mismatch lebih dari 5 persen.

Pemuda yang memiliki kemampuan teknologi digital memiliki kemungkinan mengalami mismatch hampir 7 persen lebih rendah.

>>> Fadli Zon Dorong Promosi Budaya Banyumas Jadi Etalase Sejarah

Sertifikasi, pelatihan, pengalaman praktis, dan literasi digital kini menjadi penanda baru yang semakin penting dalam proses rekrutmen oleh pemberi kerja.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru