⌂ Beranda News Kenaikan BI Rate Belum Tentu Dongkrak Bunga KPR, Ini Penjelasannya

Kenaikan BI Rate Belum Tentu Dongkrak Bunga KPR, Ini Penjelasannya

Kenaikan BI Rate Belum Tentu Dongkrak Bunga KPR, Ini Penjelasannya
Ilustrasi kenaikan suku bunga dan properti
A A Ukuran Teks16px

Data internal Rumah123 menunjukkan dampak kenaikan bunga paling cepat tercermin pada aktivitas pencarian informasi pembiayaan.

Saat SBDK masih rendah dan stabil di kisaran 7,3 persen, halaman KPR Rumah123 mencatat tingkat kunjungan yang tinggi.

Namun ketika SBDK mulai meningkat, rata-rata kunjungan ke laman simulasi KPR turun hingga 30 persen pada Oktober 2024.

Temuan tersebut mengindikasikan masyarakat menjadi lebih berhati-hati ketika biaya pinjaman berpotensi meningkat.

VP of Marketing Rumah123 Firman Pamungkas menjelaskan, konsumen umumnya tidak langsung membatalkan rencana membeli rumah saat bunga naik.

Sebaliknya, mereka cenderung memperpanjang proses pengambilan keputusan.

“Ketika suku bunga meningkat, konsumen umumnya tidak langsung membatalkan rencana membeli rumah.

Yang lebih sering terjadi adalah mereka memperpanjang fase pertimbangan, melakukan lebih banyak simulasi pembiayaan, dan menjadi lebih selektif dalam menentukan harga rumah yang sesuai dengan kemampuan cicilan mereka.

Karena itu, perubahan bunga perlu dibaca sebagai perilaku konsumen yang semakin hati-hati,” kata Firman.

Penurunan trafik pada halaman simulasi KPR menjadi salah satu indikator awal yang menunjukkan perubahan sentimen konsumen terhadap pembiayaan perumahan.

Segmen Menengah Masih Mendominasi Pasar

Di tengah ketidakpastian suku bunga, pasar properti nasional masih ditopang oleh kelompok pembeli rumah di segmen menengah.

Data Rumah123 pada Kuartal I 2026 menunjukkan bahwa properti dengan harga Rp 1 miliar hingga Rp 3 miliar menjadi segmen dengan permintaan terbesar, mencapai 35,5 persen dari total permintaan nasional.

Di posisi berikutnya terdapat properti dengan harga Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar yang menyumbang 22,7 persen permintaan.

Sementara properti dengan harga di bawah Rp 500 juta memiliki porsi 18,1 persen.

Adapun segmen properti Rp 3 miliar hingga Rp 5 miliar mencatat kontribusi 11,2 persen, sedangkan properti di atas Rp 5 miliar menyumbang 12,4 persen dari total permintaan.

Data tersebut menunjukkan lebih dari separuh permintaan aktif berada pada kelompok harga yang umumnya sangat bergantung pada fasilitas KPR.

Marisa mengatakan, dominasi segmen tersebut mencerminkan kuatnya kebutuhan hunian dari keluarga muda dan masyarakat urban.

“Permintaan terbesar saat ini masih berasal dari segmen rumah Rp 1 miliar sampai Rp 3 miliar yang umumnya merupakan keluarga baru maupun masyarakat urban dengan kebutuhan hunian riil dan profil finansial lebih matang,” ujar dia.

Dengan komposisi pasar seperti itu, pergerakan suku bunga KPR tetap menjadi faktor yang diperhatikan oleh calon pembeli rumah.

Namun, data historis menunjukkan hubungan antara BI Rate, SBDK, dan permintaan properti tidak selalu bergerak dalam pola yang sederhana.

>>> KPK Tangkap Bupati Muara Enim Edison dalam OTT, 10 Orang Diamankan

Fenomena decoupling antara BI Rate dan SBDK, adanya jeda waktu transmisi kebijakan moneter, serta tetap kuatnya permintaan pada segmen menengah menjadi gambaran bahwa dinamika pasar properti dipengaruhi oleh berbagai faktor di luar perubahan suku bunga semata.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru