Integrasi perdagangan dan keuangan global membawa manfaat, tetapi tidak selalu terdistribusi secara merata apabila kapasitas produksi nasional, penguasaan teknologi, ketahanan pangan, dan ketahanan energi belum cukup kuat.
>>> Antrean Panjang, Pengguna Motor Listrik Beralih ke Bengkel Umum
Akibatnya, Indonesia menjadi peserta dalam arus globalisasi, tetapi belum sepenuhnya menjadi pengendali arah perjalanannya.
Membangun Kemandirian
Agenda kemandirian yang saat ini mulai didorong pemerintah dapat dipahami sebagai koreksi strategis terhadap kelemahan struktural yang belum terselesaikan.
Kemandirian pangan, energi, dan teknologi merupakan upaya memperkuat fondasi ekonomi agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal.
Kemandirian bukan berarti menutup diri dari perdagangan internasional atau menolak investasi asing.
Sebaliknya, kemandirian berarti membangun kemampuan domestik yang cukup kuat sehingga hubungan dengan dunia internasional berlangsung dalam posisi yang lebih setara.
Negara tetap terbuka terhadap perdagangan, investasi, dan kerja sama global, tetapi tidak lagi berada dalam posisi ketergantungan yang berlebihan.
Agenda kemandirian ekonomi perlu disertai dengan pembangunan semangat nasionalisme ekonomi yang sehat.
Nasionalisme ekonomi bukanlah sikap anti-asing, melainkan keberpihakan yang rasional terhadap kepentingan nasional.
Bentuknya dapat berupa kebanggaan menggunakan produk dalam negeri yang berkualitas, dukungan terhadap industri nasional, peningkatan penggunaan komponen lokal, serta tumbuhnya kecintaan terhadap rupiah sebagai simbol kedaulatan ekonomi bangsa.
Negara-negara yang berhasil melakukan lompatan pembangunan bukan hanya karena memiliki kebijakan industri yang tepat, tetapi juga karena masyarakatnya memiliki kepercayaan tinggi terhadap kemampuan bangsanya sendiri.
Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok membangun industri nasionalnya melalui kebanggaan kolektif terhadap produk dan kemampuan domestik.
Pada akhirnya, kekuatan sebuah negara tidak ditentukan oleh seberapa kuat mata uangnya, melainkan oleh seberapa besar kemampuannya memenuhi kebutuhan strategisnya sendiri.
Nilai tukar hanyalah cermin. Yang menentukan isi pantulannya adalah kemampuan bangsa memproduksi pangan, menguasai energi, dan mengembangkan teknologi.
Sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa besar lahir karena memiliki kemampuan memproduksi apa yang mereka butuhkan, menguasai teknologi yang menentukan masa depan, serta membangun ketahanan ekonomi yang tidak mudah diguncang oleh perubahan arah angin global.
Tatanan ekonomi dunia sedang berubah. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia harus berubah, melainkan seberapa cepat kita mampu memperkuat fondasi kemandirian nasional.
>>> Polresta Jogja Gelar Rekonstruksi Kasus Kekerasan Anak di Daycare Little Aresha
Sebab, bangsa yang benar-benar merdeka bukanlah bangsa yang paling kaya, melainkan bangsa yang mampu berdiri tegak di atas kekuatan ekonominya sendiri.