>>> Honda Brio Terjun dari Flyover Gubeng Surabaya, Diduga Akibat Pengemudi Mabuk
Di sisi lain, indeks Nasdaq Composite melonjak hingga 220,23 poin ke level 25.929,66.
Saham perusahaan produsen chip, memori, dan produk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kembali menjadi penopang utama.
Kelompok saham ini sebelumnya tertekan akibat kekhawatiran pasar terhadap nilai valuasi yang dinilai sudah terlampau tinggi.
Saham Micron Technology melonjak 9,9 persen setelah terperosok 13,3 persen pada Jumat lalu.
Walaupun sempat mengalami tekanan hebat, saham Micron tercatat masih tumbuh lebih dari tiga kali lipat sepanjang tahun 2026.
Kenaikan juga dialami Marvell Technology sebesar 9,6 persen pada perdagangan perdana pasca S&P Dow Jones Indices mengumumkan masuknya perusahaan semikonduktor tersebut ke dalam indeks S&P 500.
Saham Marvell dilaporkan telah tumbuh lebih dari tiga kali lipat sepanjang tahun ini.
Pada pekan lalu, saham Marvell sempat meroket 32,5 persen dalam satu hari, yang menjadi lonjakan harian tertinggi sejak melantai di bursa pada tahun 2000.
Kenaikan drastis itu terjadi setelah Chief Executive Officer Nvidia Jensen Huang menyatakan dalam konferensi di Taiwan bahwa Marvell berpotensi menjadi "perusahaan triliun dolar berikutnya."
Penurunan Harga Minyak Kurangi Tekanan Inflasi
Pada perdagangan Selasa pagi, harga minyak mentah dunia bergerak turun setelah sempat menguat.
Harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional melemah 1,16 dollar AS menjadi 93,09 dollar AS per barel.
Dengan mengacu kurs Rp 18.035 per dollar AS, nilai ini setara dengan Rp 1,68 juta per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat merosot 1,42 dollar AS menjadi 89,88 dollar AS per barel, yang setara dengan Rp 1,62 juta per barel.
Tingginya harga minyak akibat ketegangan dengan Iran diketahui telah memperparah tekanan inflasi global. Imbasnya tidak hanya membebani pengeluaran rumah tangga, tetapi juga mengerek imbal hasil obligasi.
>>> Mobil Fortuner Dirusak Massa di Tanah Abang Akibat Provokasi Tabrak Lari
Kenaikan imbal hasil obligasi global akhir-akhir ini memicu kekhawatiran atas potensi perlambatan ekonomi. Situasi tersebut dinilai berisiko menekan pergerakan harga saham serta instrumen aset investasi lainnya.