⌂ Beranda News Kota Dunia Berbagi Strategi Hadapi Gelombang Panas Ekstrem

Kota Dunia Berbagi Strategi Hadapi Gelombang Panas Ekstrem

Kota Dunia Berbagi Strategi Hadapi Gelombang Panas Ekstrem
Ilustrasi kota menghadapi gelombang panas ekstrem
A A Ukuran Teks16px

Kawasan perkotaan semakin rentan terhadap suhu ekstrem yang membebani infrastruktur dan membahayakan keselamatan publik.

Fenomena pulau panas perkotaan membuat wilayah padat bangunan berpotensi lebih panas 10 hingga 15 derajat Celsius dibandingkan pedesaan.

>>> Portugal Ditahan Imbang Kongo 1-1 di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Data PBB menunjukkan hampir setengah juta orang meninggal setiap tahun akibat persoalan terkait panas.

Emisi bahan bakar fosil memicu perubahan iklim yang membuat gelombang panas datang lebih awal dan lebih intens.

Separuh populasi dunia yang tinggal di perkotaan kini berupaya menjaga kelayakan huni wilayah mereka. Berbagai otoritas kota saling membagikan strategi adaptasi dalam pertemuan persiapan iklim PBB di Bonn.

"Panas adalah pembunuh senyap, tetapi bukan sesuatu yang tak bisa dicegah," kata Hans Henri P. Kluge, Direktur Regional Eropa WHO, saat mempresentasikan panduan perlindungan dari panas.

"Kita memiliki alatnya. Sekarang kita harus menggunakannya."

Tantangan iklim ini tidak lagi sekadar masalah cuaca lokal, melainkan sudah merambah ke sektor kesehatan, ekonomi, dan sosial-lingkungan.

Di Teresina, Brasil, suhu udara kini kerap melampaui ambang 40 derajat Celsius.

"Saat ini, panas bukan lagi sekadar karakteristik iklim lokal.

Panas telah menjadi tantangan bagi perkotaan, kesehatan masyarakat, ekonomi, dan sosial-lingkungan," kata Leonardo Madeira Martins, pejabat bidang keberlanjutan untuk kota Teresina.

Kondisi ekstrem tersebut mengganggu produktivitas, kenyamanan tidur, serta mobilitas harian bagi sekitar 870.000 warga Teresina.

Dampak serupa dirasakan di Antalya, wilayah Mediterania yang menjadi calon tuan rumah Konferensi Iklim PBB COP31.

"Antalya adalah kota Mediterania yang musim panasnya memang selalu panas. Namun, karakter panasnya telah berubah," kata Melike Kireccibasi, pakar iklim di pemerintah kota tersebut.

Gelombang panas kini berlangsung lebih lama dan lebih sering.

Suhu tinggi memberikan tekanan berat bagi 2,6 juta penduduk Antalya, sistem pasokan energi, penyediaan air, serta jutaan wisatawan.

Risiko paling fatal mengintai kelompok rentan seperti anak-anak, warga lansia, dan orang sakit.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru