Arus lalu lintas kapal tanker minyak yang melewati Selat Hormuz diperkirakan tidak akan kembali normal seperti sebelum konflik di Timur Tengah.
Analis Goldman Sachs memproyeksikan aliran minyak di jalur pelayaran strategis tersebut hanya akan pulih sekitar 70 persen atau setara 13 juta barel per hari.
>>> Meksiko Jadi Tim Pertama Lolos ke Babak Gugur Piala Dunia 2026
Proses pemulihan diprediksi berjalan bertahap hingga akhir Juli 2026, sedangkan pemulihan produksi minyak secara menyeluruh baru tercapai pada Oktober 2026.
Goldman Sachs menyatakan bahwa perubahan rute perdagangan berpotensi permanen karena negara produsen di kawasan Teluk telah memaksimalkan jalur ekspor alternatif.
Dampak Konflik dan Adaptasi Pasar
Selat Hormuz merupakan rute dagang krusial yang sebelumnya menjadi tumpuan utama ekspor minyak negara-negara Teluk.
Hambatan selama masa perang memaksa para produsen mengalihkan pengiriman demi menjaga kelancaran ekspor, yang pada jangka panjang dapat mengubah peta perdagangan global.
Co-Head of Global Commodities Research Goldman Sachs, Daan Struyven, menjelaskan bahwa pasar komoditas global sempat menghadapi guncangan pasokan yang sangat besar.
"Menghadapi guncangan pasokan minyak terbesar yang pernah ada, kita kehilangan sekitar 14 persen produksi global dari Timur Tengah," kata Struyven dalam podcast Goldman Sachs Exchanges yang direkam pada Selasa (16/6/2026).
Meskipun terjadi penurunan pasokan, harga minyak mentah justru terkoreksi dari di atas 120 dolar AS per barel menjadi sekitar 80 dolar AS per barel.
Fenomena ini dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap pemulihan bertahap serta adaptasi negara di luar kawasan melalui penurunan permintaan sebesar 5 persen dan peningkatan pasokan alternatif.
Menurut Struyven, ekspor minyak dari Teluk tetap bisa menyentuh level normal walaupun kapasitas Selat Hormuz hanya berfungsi sebagian.
Hal ini terjadi karena optimalisasi infrastruktur pipa darat selama konflik berlangsung.
"Agar ekspor dari kawasan ini kembali normal sepenuhnya, arus melalui selat harus kembali ke sekitar 70 persen dari tingkat normal karena kita telah melihat banyak pengalihan melalui jalur pipa khususnya," ujar Struyven.