Generasi Z dan milenial di Indonesia kini mulai menunjukkan gejala perilaku belanja impulsif atau doom spending. Mereka mencari kepuasan instan di tengah tekanan ekonomi yang melanda.
Fenomena ini dipicu oleh melonjaknya biaya hidup yang tidak sebanding dengan upah, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga harga hunian yang kian tidak terjangkau bagi kelompok usia muda.
>>> BAIC Indonesia Siap Luncurkan Mobil Listrik Arcfox T1, Tanggapi Kemiripan Nama
Data industri perbankan dari BTN pada Juni 2026 mencatat sekitar 64 persen Gen Z di Indonesia mengalami stres finansial.
Pemicu dan Pola Doom Spending
Guru besar ekonomi Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai kondisi tersebut telah memicu perhatian sektor perbankan karena berkorelasi langsung dengan tingginya penggunaan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh anak muda.
Doom spending adalah perilaku belanja impulsif untuk mencari kepuasan instan demi meredakan kecemasan akibat pesimisme terhadap masa depan finansial.
Fenomena ini jelas sudah mulai terlihat di Indonesia, terutama di kalangan Generasi Z dan Milenial.
Pola pengeluaran emosional ini dialihkan ke kesenangan jangka pendek seperti berburu tiket konser, barang koleksi viral, hingga konsumsi kopi premium sehari-hari.
>>> Kanada Bungkam Qatar 6-0, Laga Diwarnai Ketegangan dan Kartu Merah
Hal ini terjadi karena target jangka panjang dianggap mustahil.
Harga properti yang kian tak terjangkau menciptakan mentalitas 'mau menabung juga buat apa, rumah tetap tidak akan terbeli'.
Kemudahan transaksi digital melalui integrasi e-commerce dan dompet digital juga mempercepat hilangnya hambatan psikologis masyarakat dalam membelanjakan uang secara spontan.
Metode pembayaran yang mulus memicu konsumsi emosional yang tidak direncanakan.
>>> Pedro Acosta: Insinyur Lebih Menentukan Kemenangan di MotoGP Modern
Kendati demikian, dampak ketidakpastian ekonomi ini ditanggapi berbeda oleh sebagian masyarakat kelas menengah lain yang justru memilih memperketat anggaran dan memperbesar tabungan dana darurat.