Maroko resmi menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Spanyol dan Portugal. Keputusan FIFA pada Desember 2024 ini mengakhiri lima kali kegagalan pencalonan sebelumnya.
Ajang sepak bola terbesar dunia itu dinilai sebagai proyek prestisius penting bagi Raja Mohammed VI.
>>> Elon Musk: Massa dan Energi Akan Gantikan Uang Konvensional
Langkah ini menjadi bagian dari strategi modernisasi yang lebih luas, terutama untuk kemajuan tim nasional.
Pemerintah Maroko memanfaatkan momen ini untuk mendorong agenda modernisasi dan melegitimasi investasi besar di dalam negeri. Dampak yang diharapkan melampaui bidang olahraga.
Soft Power dan Infrastruktur
Anggaran besar dialokasikan untuk pembangunan stadion, bandara, jalur kereta, dan jalan raya. Studi dari Real Instituto Elcano menyebut Piala Dunia 2030 berfungsi sebagai instrumen soft power bagi Maroko.
Turnamen ini ditargetkan memperbaiki citra internasional, menarik investasi baru, serta memperkuat posisi Maroko di Afrika. Negara tersebut ingin membangun reputasi sebagai wilayah yang terbuka, toleran, dan maju.
Direktur kantor Yayasan Konrad Adenauer di Rabat, Steven Hoefner, mengatakan peningkatan visibilitas internasional menjadi prioritas utama.
Maroko lebih mengandalkan pengaruh politik dan budaya karena minimnya cadangan minyak dan gas besar.
Isabelle Werenfels dari SWP Berlin menilai pemerintah memakai kesempatan ini untuk mengesahkan investasi berskala besar di tingkat domestik.
Piala Dunia memiliki banyak dimensi, termasuk sebagai katalis ekonomi.
Gelombang Protes dan Tantangan Sosial
Investasi masif ini memicu kontroversi.
Tahun lalu, ribuan pemuda generasi Z turun ke jalan melakukan aksi protes yang ditujukan pada proyek infrastruktur berskala besar.
>>> Karyawan Konfeksi Curi Kain Rol di Tambora, Kerugian Capai Rp2 Juta
Pengkritik berpendapat anggaran besar untuk stadion sebaiknya dialihkan ke sektor pendidikan dan kesehatan. Namun, Hoefner memandang aksi tersebut lebih pada penentuan prioritas pembangunan.
Analisis Carnegie Endowment for International Peace menunjukkan Maroko telah membuat kemajuan signifikan dalam 25 tahun terakhir.
Angka harapan hidup, pendapatan, dan tingkat pendidikan meningkat, bahkan negara ini menjadi eksportir otomotif terbesar di Afrika.