⌂ Beranda News Ambisi Kendaraan Listrik Terbentur Ketahanan Energi yang Belum Siap

Ambisi Kendaraan Listrik Terbentur Ketahanan Energi yang Belum Siap

Ambisi Kendaraan Listrik Terbentur Ketahanan Energi yang Belum Siap
Ilustrasi kendaraan listrik di stasiun pengisian
A A Ukuran Teks16px

JAKARTA — Ambisi pemerintah untuk mempercepat elektrifikasi di sektor otomotif nasional masih menghadapi kendala serius, yaitu ketahanan energi.

Di satu sisi, masyarakat terus didorong beralih ke kendaraan listrik, namun di sisi lain infrastruktur listrik masih kerap mengalami pemadaman.

>>> Meta Resmi Luncurkan WhatsApp Plus Berbayar di Indonesia, Ini Fitur dan Harganya

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan bagi calon konsumen: bagaimana bisa beralih ke kendaraan listrik jika pasokan listrik rumah tangga saja belum stabil?

Peneliti senior Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan ITB, Agus Purwadi, menilai situasi ini dilematis.

Menurut Agus, akar masalahnya adalah ketergantungan tinggi pada pembangkit listrik konvensional berbahan bakar fosil. Ketika harga komoditas fosil global bergejolak, ketahanan energi domestik langsung terpengaruh.

"Karena sekarang kita sangat bergantung pada fosil. Padahal harganya sedang naik," ujar Agus saat dihubungi Kompas.

com.

Ironi Kendaraan Listrik yang Disuplai Batu Bara

Pemadaman listrik yang berulang menjadi sinyal bahwa lonjakan beban daya di masa depan belum diantisipasi. Kendaraan listrik membutuhkan stasiun pengisian yang andal, baik di rumah maupun umum.

Jika jaringan PLN sering terganggu, proses pengisian daya kendaraan listrik akan tersendat. Lebih ironis lagi, jika sumber listrik masih mengandalkan energi kotor seperti batu bara.

Agus menekankan bahwa kesiapan ekosistem elektrifikasi tidak hanya soal kuantitas, seperti jumlah SPKLU atau target populasi kendaraan listrik.

>>> Erick Thohir Akan Lapor Program Olahraga ke Prabowo di Hambalang

Kunci utamanya adalah reformasi bauran energi di sisi hulu.

Esensi kendaraan listrik yang ramah lingkungan akan hilang jika dayanya masih disuplai PLTU batu bara. Percepatan transisi ke Energi Baru Terbarukan (EBT) menjadi keharusan agar ekosistem berjalan beriringan.

"Harus diarahkan ke renewable energy-nya juga ditambah," ujarnya.

Indonesia adalah produsen batu bara terbesar di dunia, namun aturan Domestic Market Obligation (DMO) tidak berubah selama delapan tahun.

Harga jual batu bara ke luar negeri jauh lebih tinggi, sehingga pengusaha lebih memilih ekspor.

"Harga kita dipatok tetap 70 dolar AS, padahal fluktuasi di luar sudah 100 dolar AS lebih," kata Agus.

Akibatnya, pasokan untuk dalam negeri terbatas.

Agus menambahkan, Indonesia secara global surplus energi, bukan importir. Masalahnya ada pada manajemen.

>>> Kebijakan Suku Bunga The Fed Tekan Harga Emas Pegadaian

Dengan dorongan energi terbarukan, rumah tangga bisa menggunakan panel surya untuk mengisi daya kendaraan listrik.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru