Sebuah video di TikTok yang menampilkan klaim Dharma Pongrekun mengenai asal-usul istilah hantavirus telah ditonton lebih dari 1 juta kali.
Dalam video itu, ia menyebut kata 'hanta' berasal dari bahasa Ibrani yang berarti omong kosong, pembohong, dan penipu.
>>> Kebakaran Hanguskan Rumah di Kemayoran Jakarta Pusat
Hasil verifikasi menunjukkan pernyataan tersebut keliru.
Penelusuran mengungkap bahwa narasi ini berawal dari diskusi di media sosial X pada 10 Mei 2026, ketika seorang pengguna bertanya kepada Grok, chatbot AI milik platform X.
Grok memberikan jawaban keliru dengan mencampuradukkan 'hanta' dengan kata slang Ibrani 'kharta' atau 'chartah' yang berarti sampah atau omong kosong.
Setelah dikoreksi, chatbot itu merevisi jawabannya dan mengakui kesalahan.
Kamus Ibrani Morfix mengonfirmasi bahwa kata slang yang berarti 'rubbish' atau 'nonsense' adalah 'kharta', sedangkan 'hanta' dalam bahasa Ibrani berkaitan dengan proses pematangan buah atau pohon yang berbuah.
Asal-usul Nama dari Sungai di Korea
Penamaan hantavirus sama sekali tidak terkait dengan bahasa Ibrani.
Berdasarkan artikel ilmiah 'A Brief History of Bunyaviral Family Hantaviridae', virus yang awalnya berkode 'KHF strain 76-118' dinamai 'Hantaan virus' karena ditemukan di kawasan Sungai Hantan, Korea Selatan.
>>> AS Tegaskan Prosedur Ketat untuk Timnas Iran di Piala Dunia 2026 Sesuai Rencana
Virolog asal Korea Selatan, Lee Ho-wang, berhasil mengidentifikasi virus ini dari hewan pengerat yang ditangkap di sekitar area sungai tersebut pada masa Perang Korea.
Karakteristik Penyebaran Berbeda dengan COVID-19
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa penyakit virus Hanta merupakan zoonosis yang menular dari tikus atau celurut melalui urine, feses, saliva, atau debu terkontaminasi.
Pola penularannya tidak menyerupai COVID-19.
Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono, menegaskan infeksi ini mayoritas terjadi dari hewan ke manusia dan tidak menyebar dengan mudah antarmanusia.
'Selama belum ada penularan dari manusia ke manusia, kita tidak usah terlalu khawatir akan terjadi pandemi seperti COVID,' katanya.
Pandu mengingatkan bahwa disinformasi terkait penyakit tetap berbahaya karena bisa memicu keterlambatan respons masyarakat.
>>> Cristiano Ronaldo Pimpin Portugal Hadapi RD Kongo di Piala Dunia 2026
Fact-Check Specialist Mafindo, Aribowo Sasmito, menambahkan bahwa peristiwa ini menjadi peringatan akan risiko penggunaan jawaban AI tanpa verifikasi ulang ke sumber ilmiah terpercaya.
