⌂ Beranda News Israel Pertahankan Pasukan di Lebanon Selatan Selama Gencatan Senjata

Israel Pertahankan Pasukan di Lebanon Selatan Selama Gencatan Senjata

Israel Pertahankan Pasukan di Lebanon Selatan Selama Gencatan Senjata
Tentara Israel berjaga di Lebanon selatan
A A Ukuran Teks16px

Pemerintah Israel menegaskan komitmen untuk mempertahankan keberadaan pasukannya di wilayah Lebanon bagian selatan sepanjang masa gencatan senjata dengan Hizbullah.

Gencatan senjata dilaporkan mulai berlaku pada Jumat (19/6/2026) pukul 16.00 waktu setempat.

>>> Ganti Oli Mesin Mobil Tiap 10.000 Km Berisiko Rusak Akibat Macet

Keputusan penempatan militer ini diambil Tel Aviv dengan syarat gencatan senjata akan tetap bertahan selama kelompok yang didukung Iran tersebut mematuhinya.

Pengaturan ini juga memungkinkan militer Israel untuk bertindak langsung terhadap setiap ancaman yang muncul.

Kebijakan operasional militer tersebut dikonfirmasi oleh seorang pejabat Israel yang enggan disebutkan namanya melalui surat kabar Yedioth Ahronoth.

"Jika Hizbullah tidak menyerang, kami tidak akan menyerang mereka. Jika mereka menyerang kami, kami akan membalas," kata pejabat Israel tersebut.

Perpanjangan masa gencatan senjata ini juga mendapatkan konfirmasi dari seorang pejabat senior Amerika Serikat (AS).

>>> Klaim 'Bebas Bahan Kimia' dalam Iklan: Antara Mitos dan Fakta Ilmiah

Kendati demikian, pihak AS tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai detail kesepakatan perpanjangan tersebut.

Langkah diplomasi ini diumumkan setelah eskalasi besar yang menewaskan sedikitnya 47 orang akibat serangan udara Israel di Lebanon bagian selatan dan timur sejak Jumat (19/6) pagi.

Di sisi lain, empat tentara Israel dilaporkan tewas akibat serangan balasan dari Hizbullah.

Lonjakan kekerasan tersebut menjadi momen paling mematikan sejak AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) secara elektronik pada Rabu (17/6) malam.

>>> Saham Danantara Topang IHSG di Tengah Volatilitas Pasar

Nota kesepahaman yang ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian tersebut sebenarnya bertujuan untuk mengakhiri pertempuran di seluruh lini konfrontasi.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru