Kelompok pemburu pengumpul di Siberia menjadi korban wabah pes mematikan sekitar 5.500 tahun lalu. Temuan ini berdasarkan hasil studi genetik terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature.
Tim peneliti Zaman Batu berhasil mengidentifikasi DNA kuno dari belasan individu. Analisis menunjukkan adanya galur bakteri Yersinia pestis kuno yang sebelumnya tidak diketahui.
>>> Jadwal Timnas MLBB Indonesia di Kualifikasi Asian Games 20 Juni 2026
Bakteri tersebut menjadi pemicu utama penyakit pes berbahaya, termasuk pes paru, pes bubo, dan pes septikemik.
Wabah prasejarah ini diduga kuat merupakan jenis pes paru yang menular melalui marmot liar di sekitar Danau Baikal.
Data DNA kuno menunjukkan adanya gen unik pengode protein yang memicu respons imun masif. Kondisi ini menjelaskan mengapa anak-anak menjadi kelompok paling rentan meninggal.
"Kami mendapatkan hasil sangat mengejutkan bahwa kami menemukan banyak sekali kasus pes di sini, jauh lebih awal dari yang kami perkirakan," kata Ruairidh Macleod, penulis utama studi dan peneliti genomik kuno dari University of Oxford.
Menurut Eske Willerslev, ahli genetika evolusioner dari University of Copenhagen, pemahaman evolusi penyakit ini penting untuk memprediksi perubahan Y.
pestis di masa depan.
>>> Tiga Pemenang Kuis Tebak Rider MotoGP Bold Riders Kantongi Hadiah
Bukti Kematian Massal di Sungai Angara
Pemeriksaan DNA kuno di empat kuburan sepanjang Sungai Angara dekat Danau Baikal memberikan bukti baru. Temuan ini memastikan bahwa galur pes prasejarah tersebut sangat mematikan.
Para peneliti mencurigai jumlah makam anak-anak yang tidak wajar dalam periode singkat. Ekstraksi DNA dari sampel gigi 46 individu menunjukkan keberadaan bakteri Y.
pestis pada 18 individu.
Temuan mencakup dua periode wabah: pertama sekitar 5.596 hingga 5.341 tahun lalu, dan kedua antara 5.126 hingga 4.926 tahun lalu.
Beberapa liang lahat berisi sisa kerangka beberapa individu yang dikubur bersamaan, menandakan kematian akibat epidemi.
Satu makam menjadi tempat peristirahatan tiga gadis muda yang berkerabat dekat. Makam lain berisi jenazah keponakan dan bibinya.
>>> Pemerintah Kaji Penyesuaian Harga DMO Batubara untuk Kelistrikan
"Pasti ada penyintas yang mengenal orang-orang ini ketika mereka masih hidup, mengetahui identitas mereka, serta mengetahui hubungan biologis mereka, sehingga bisa menguburkan para korban di liang lahad yang sama," kata Macleod.