Pada tahun 2018, gugatan class action serupa pernah dilayangkan terkait lonjakan harga memori, meski saat itu kasusnya ditolak oleh pengadilan karena dianggap kurang cukup bukti adanya kesepakatan tertulis antarperusahaan.
Krisis memori yang disebut banyak kalangan sebagai "RAMpocalypse" ini telah memberikan dampak nyata bagi industri teknologi.
Harga perangkat konsumen, mulai dari laptop, PC gaming, hingga konsol game, mengalami kenaikan signifikan karena produsen perangkat terpaksa membebankan biaya komponen yang mahal kepada pembeli.
Meskipun ketiga perusahaan belum memberikan tanggapan resmi di pengadilan, pakar industri memperingatkan bahwa bukti dalam kasus ini akan sulit didapatkan.
Pihak produsen kemungkinan besar akan berargumen bahwa peralihan produksi ke HBM adalah langkah bisnis yang logis karena permintaan pasar AI yang jauh lebih menguntungkan, bukan karena konspirasi.
Sementara proses hukum berjalan, pasar memori diprediksi masih akan mengalami tekanan harga yang berat.
Analis dari Jefferies Equity Research memperkirakan harga memori akan kembali melonjak sebesar 30% hingga 40% pada kuartal keempat tahun 2026 ini.
>>> Portugal Balikkan Keadaan, Singkirkan Kroasia 2-1
Harapan akan adanya normalisasi harga baru muncul pada tahun 2028, seiring dengan bertambahnya kapasitas pabrik baru dan mulai meredanya gila-gilaan investasi pusat data AI.