⌂ Beranda › News › Teknologi Pemantauan dan Peringatan Dini untuk Cegah Kebakaran TPA
News

Teknologi Pemantauan dan Peringatan Dini untuk Cegah Kebakaran TPA

Ilustrasi drone dan kamera termal memantau area TPA
Teknologi Pemantauan dan Peringatan Dini untuk Cegah Kebakaran TPA
A A Ukuran Teks16px

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam pencegahan kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), menyusul insiden di TPA Jatiwaringin.

Peneliti Ahli Utama BRIN, Wahyu Purwanta, menyatakan bahwa upaya pencegahan harus dimulai dari pengelolaan TPA yang lebih terkontrol.

Teknologi yang dapat dikembangkan meliputi pemantauan temperatur, kamera dan drone termal, serta sensor gas.

Sistem peringatan dini berbasis kombinasi data timbunan dan cuaca juga dinilai krusial untuk mendeteksi titik panas sejak dini.

Pendekatan berbasis sains dapat membantu mendeteksi potensi kebakaran sebelum meluas dengan memantau parameter seperti suhu permukaan, anomali panas, dan konsentrasi gas.

Parameter ini dapat diintegrasikan menjadi indeks risiko kebakaran TPA yang sesuai dengan karakteristik sampah dan iklim Indonesia.

Secara ilmiah, kebakaran terjadi akibat pertemuan bahan bakar, oksigen, dan sumber panas.

Di TPA, bahan bakar melimpah dari sampah plastik, kertas, hingga organik kering, serta gas landfill seperti metana.

Sumber penyalaan awal sering kali sulit dipastikan, namun dapat berasal dari api terbuka, puntung rokok, atau benda panas.

Penyebab spesifik insiden kebakaran TPA Jatiwaringin perlu menunggu hasil investigasi yang memadai.

Selain sistem pemantauan, pengelolaan sampah harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah, karena tidak ada satu teknologi yang cocok untuk semua TPA.

Keberhasilan teknologi sangat bergantung pada kesesuaian dengan karakteristik sampah, kualitas operasi, kompetensi operator, dan kepastian pengelolaan residu.

Sampah organik sebaiknya diolah melalui pengomposan atau biodigester, sementara material bernilai ekonomi didaur ulang.

Fraksi sampah yang mudah terbakar dapat dimanfaatkan menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau diolah menggunakan teknologi waste-to-energy.

Pencegahan kebakaran jangka panjang juga memerlukan pengurangan volume sampah campuran yang berakhir di TPA.

Penguatan pengurangan, pemilahan, daur ulang, dan pengolahan sampah organik harus dilakukan agar TPA lebih menerima residu dan beroperasi terkontrol.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru