>>> Nader Mohammadi, Pemain yang Cetak Assist dari Salto Lemparan ke Dalam
Tianchen Xu, ekonom di Economist Intelligence Unit, menjelaskan bahwa di pasar di mana posisi ilmuwan AI dan algoritme sudah mematok gaji tinggi, perusahaan berupaya mengidentifikasi talenta berpotensi tinggi sebelum pasar sepenuhnya menentukan harga mereka.
Perusahaan teknologi juga semakin mengincar talenta yang lebih muda, bahkan dari jenjang SMA.
Perusahaan besar seperti ByteDance, Alibaba, dan Tencent Holdings bahkan meluncurkan program rekrutmen elite tahunan yang menargetkan mahasiswa yang diperkirakan baru akan lulus pada 2027.
Gaji Fantastis dan Faktor Lain
Perlombaan talenta ini mendorong lonjakan gaji di seluruh sektor teknologi China.
Industri teknologi mencatat kenaikan anggaran gaji tertinggi tahun ini sebesar 4,6%, sedikit di atas median nasional 4,3%.
Dana Zheng, CEO Dolphin Leap Career, mengungkapkan bahwa paket kompensasi tahunan untuk profesional AI, termasuk pemberian saham, sering kali menembus tujuh digit yuan.
Gaji pokok rata-ratanya saja bisa mencapai sekitar 60.000 yuan per bulan, sekitar 16 kali rata-rata pendapatan bersih bulanan di China.
Namun, kompensasi semata belum tentu cukup untuk menarik minat talenta AI terkemuka.
Banyak kandidat lebih memprioritaskan akses terhadap sumber daya komputasi, ketersediaan data berkualitas tinggi, kesempatan bekerja bersama tim kelas dunia, memecahkan masalah kompleks, serta memengaruhi keputusan bisnis dan menerapkan sistem AI skala besar.
Haghzare menambahkan bahwa perusahaan besar dan startup menarik kelompok kandidat yang berbeda.
>>> Bruno Guimaraes Resmi Gabung Arsenal, Mikel Arteta Puji Ambisi Sang Pemain
Generasi yang lebih tua mungkin lebih memilih perusahaan besar, sementara lulusan muda lebih antusias dengan perusahaan teknologi baru.
