Arab Saudi, yang dikenal memiliki bentang gurun terluas di dunia termasuk kawasan Rub' al Khali, ternyata mengimpor pasir untuk kebutuhan konstruksi.
Pada tahun 2023, negara ini tercatat membeli pasir konstruksi dari Australia senilai sekitar USD 138.600 atau Rp 2,4 miliar.
>>> Poco Carnival 2026 Hadir, Diskon Ponsel Capai Rp 3 Juta
Transaksi ini menunjukkan bahwa tidak semua jenis pasir cocok digunakan untuk membangun gedung, meskipun ketersediaannya melimpah.
Karakteristik Pasir Gurun yang Tidak Ideal
Masalah utama bukan pada ketersediaan pasir, melainkan pada bentuk dan karakter butirannya.
Pasir di gurun seperti Empty Quarter telah terkikis oleh angin selama ribuan tahun, membuat butirannya menjadi halus dan membulat.
Bentuk butiran yang membulat ini cenderung lebih mudah bergeser dan tidak saling mengunci dengan baik ketika digunakan sebagai bahan pembuat beton.
Sebaliknya, pasir yang berasal dari sungai atau batuan yang dihancurkan biasanya memiliki butiran yang lebih kasar dan bersudut.
Bentuk ini memungkinkan butiran saling mengunci secara mekanis, yang sangat penting untuk kekuatan struktur beton.
Beton merupakan material komposit yang membutuhkan agregat, pasir, dan semen sebagai pengikat. Agar kuat, agregat harus tersusun rapat, dengan pasir mengisi celah di antaranya, dan semen mengikat semuanya.
Pasir gurun yang membulat dan cenderung seragam ukurannya menyulitkan proses penguncian antar butiran dan pengisian celah yang optimal.
Campuran beton yang baik memerlukan distribusi ukuran butiran yang tepat untuk meminimalkan rongga.
Pentingnya Sifat Fisik Pasir untuk Konstruksi
Pasir yang dibutuhkan untuk konstruksi dinilai berdasarkan sifat fisiknya, bukan hanya jumlahnya.
>>> Diincar Arsenal, Christian Kofane Pilih Tenang dan Fokus ke Leverkusen
Pasir dari sungai atau hasil penghancuran batu memiliki karakter butiran yang lebih angular atau bersudut, membuatnya lebih sesuai untuk material konstruksi.
