Masyarakat di tengah musim kemarau dapat berperan aktif memantau kondisi lingkungan serta potensi kebakaran hutan melalui teknologi satelit langsung dari ponsel.
Data tersebut tersedia lewat sejumlah layanan resmi untuk mendeteksi anomali suhu panas atau hotspot di berbagai wilayah.
Daftar Platform Pemantauan Titik Panas
Layanan pertama adalah SiPongi+ milik Kementerian Kehutanan yang menyajikan informasi hotspot terkini beserta tingkat kepercayaannya.
Pengguna dapat membuka laman resmi SiPongi+ dan memilih menu Peta Hotspot guna mengamati persebaran titik panas.
Tingkat kepercayaan pada SiPongi+ terbagi menjadi warna hijau untuk indikasi rendah, kuning untuk sedang, dan merah untuk tinggi.
Layanan kedua yaitu Citra Polar Hotspot dari BMKG yang menampilkan citra satelit terbaru dari sensor VIIRS serta MODIS.
Masyarakat dapat mengakses halaman polar hotspot BMKG untuk mengamati titik anomali suhu pada siang maupun malam hari.
Layanan ketiga adalah Google Maps yang dapat dimanfaatkan sebagai tambahan untuk melihat informasi kebakaran aktif.
Pengguna aplikasi Google Maps cukup mengetuk menu Lapisan atau Layers lalu memilih opsi kebakaran hutan jika tersedia.
Google menggunakan teknologi kecerdasan buatan serta data satelit untuk memperkirakan wilayah yang terdampak kebakaran aktif.
Seluruh informasi dari satelit tersebut bersifat indikasi awal sehingga tetap memerlukan verifikasi langsung di lapangan.