Perkembangan teknologi kecerdasan buatan memicu lonjakan kebutuhan konektivitas global yang jauh melampaui kecepatan industri dalam membangun infrastruktur fisik.
Kondisi tersebut terlihat jelas pada proyek kabel laut Bifrost yang menghubungkan wilayah Singapura hingga Amerika Serikat.
Director of Wholesale & International Service Telkom Indonesia Budi Satria Dharma Purba menyatakan pembangunan infrastruktur itu memakan waktu sekitar lima tahun.
Namun, kapasitas kabel tersebut langsung habis terpakai dalam kurun waktu kurang dari satu tahun setelah proyek selesai.
Permintaan koneksi untuk komputasi dan kecerdasan buatan dilaporkan melonjak hingga lebih dari 10 hingga 20 kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Lonjakan permintaan ini mendorong anak usaha TelkomGroup, Telin, untuk terus menggenjot investasi pada infrastruktur jaringan internasional.
Pertumbuhan bisnis konektivitas yang ditopang kabel laut internasional kini mencatat kenaikan pendapatan di atas 20% secara tahunan.
Tantangan Pembangunan Infrastruktur Digital
Penyediaan infrastruktur kabel laut internasional menghadapi berbagai kendala mulai dari rantai pasok hingga faktor geopolitik global.
Perusahaan teknologi besar saat ini menguasai sekitar 70% porsi pembangunan kabel laut, meningkat drastis dibandingkan posisi tahun 2012.
Konflik di kawasan Timur Tengah juga berpotensi mengganggu jalur kabel penting di Laut Merah dan Selat Hormuz.
Situasi ini membuat kolaborasi antaroperator telekomunikasi dan pemain ekosistem digital menjadi model operasi wajib untuk masa depan.