Kuala Lumpur juga dapat digunakan sebagai titik transit untuk perjalanan menuju kota lain di Malaysia maupun negara lainnya. Koneksi tersebut antara lain dapat dimanfaatkan penumpang dari Lampung yang melakukan perjalanan umrah menuju Timur Tengah.
Arus penumpang juga diharapkan bergerak dari arah sebaliknya. Penerbangan langsung memberi wisatawan Malaysia pilihan untuk menuju Lampung tanpa harus masuk melalui kota lain di Indonesia.
Jakarta-Lampung Dilayani hingga Tiga Kali Sehari
Pada jalur domestik, Transnusa mengoperasikan penerbangan Jakarta-Lampung hingga tiga kali dalam sehari. Durasi penerbangannya sekitar 45 hingga 60 menit.
Dari Jakarta, penumpang asal Lampung dapat melanjutkan perjalanan menggunakan jaringan Transnusa menuju Yogyakarta, Denpasar, Lombok, dan Singkawang. Jaringan internasional dari Jakarta mencakup Singapura, Guangzhou, serta Bangkok.
Direktur Utama Transnusa, Bayu Sutanto, mengatakan pembukaan dua rute secara bersamaan dirancang untuk menghubungkan Lampung dengan jaringan domestik melalui Jakarta sekaligus menyediakan penerbangan langsung ke luar negeri melalui Kuala Lumpur.
“Ini adalah bagian dari visi kita untuk membuat konektivitas di kota-kota besar, kecil, dan juga destinasi wisata di seluruh Nusantara. Kita tidak hanya menghubungkan Jakarta-Lampung semata, tetapi juga membuka konektivitas Lampung ke tujuan luar negeri, yaitu Kuala Lumpur. Kita harapkan penerbangan ini akan terus berlanjut dan pada saatnya dapat ditambah frekuensinya sesuai dengan permintaan pengguna,” ujar Bayu.
Tarif Jakarta-Lampung Mulai Rp699 Ribu
Transnusa menyiapkan tarif khusus untuk penerbangan di kedua rute tersebut. Tiket Jakarta-Lampung ditawarkan mulai Rp699.000, sedangkan Lampung-Kuala Lumpur mulai Rp1.599.000.
Untuk perjalanan dari Malaysia menuju Lampung, tarif Kuala Lumpur-Lampung dimulai dari MYR399.
Transnusa Gunakan COMAC C909 Berkapasitas 95 Penumpang
Penerbangan Jakarta-Lampung dan Lampung-Kuala Lumpur dilayani menggunakan COMAC C909 berkapasitas 95 penumpang. Pesawat regional jet tersebut dipilih dengan mempertimbangkan karakter rute serta perkiraan jumlah penumpang pada masa awal pengoperasian.