⌂ Beranda News Kontroversi Teori Letusan Toba dan Bottleneck Genetik Manusia
News

Kontroversi Teori Letusan Toba dan Bottleneck Genetik Manusia

Pemandangan kawasan Danau Toba yang terbentuk dari letusan super
Kontroversi Teori Letusan Toba dan Bottleneck Genetik Manusia
A A Ukuran Teks16px

Sekitar 74.000 tahun lalu, Homo sapiens diyakini pernah menghadapi ancaman kepunahan paling nyata dalam sejarah.

Sebuah teori berpengaruh menyebutkan peristiwa itu dipicu oleh letusan super dahsyat dari gunung berapi raksasa yang kini membentuk Danau Toba di Sumatera Utara.

Catatan geologis menunjukkan letusan tersebut melepaskan sekitar 2.000 kilometer kubik material ke permukaan bumi dalam durasi 9 hingga 14 hari.

Letusan luar biasa ini melontarkan debu serta puing masif ke atmosfer dan menutupi langit dengan jelaga tebal yang menghalangi cahaya Matahari.

Peristiwa tersebut diduga mendorong Bumi memasuki Zaman Es mini yang singkat dengan penurunan suhu global sekitar 2,3 derajat C hingga 4,1 derajat C.

Kondisi lingkungan yang sangat dingin dan langka makanan itu konon memicu penyempitan genetik yang membuat populasi manusia anjlok drastis.

Perdebatan dan Bukti Kontrak di Kalangan Ilmuwan

Meski demikian, tidak semua ilmuwan sepakat dengan gagasan bahwa letusan Toba memicu musim dingin vulkanik yang mematikan.

Sejumlah ahli kebumian dan arkeolog menemukan indikasi bahwa populasi hominin di berbagai situs Afrika serta Asia tetap bertahan stabil sebelum maupun sesudah letusan.

Analisis DNA terhadap puluhan spesies mamalia pada tahun 2020 juga menunjukkan sebagian besar spesies tidak mengalami tekanan ekstrem akibat bencana tersebut.

Hingga kini, misteri mengenai faktor utama yang benar-benar memicu penyempitan populasi pada Homo sapiens purba masih terus diteliti oleh para ahli.

📰 Update Terbaru