Sejumlah terduga peretas asal China dilaporkan menyamar sebagai karyawan perusahaan kecerdasan buatan Anthropic.
Mereka juga menyamar sebagai mantan pejabat Amerika Serikat dalam sebuah kampanye spionase siber.
Tujuan utama tindakan tersebut adalah mengumpulkan informasi mendalam mengenai perkembangan AI di Amerika Serikat.
Temuan ini diungkapkan secara resmi oleh perusahaan keamanan siber Proofpoint yang berbasis di Silicon Valley.
Sasaran Utama Kampanye Spionase
Para pelaku menargetkan akun email para pakar yang menguasai bidang pengendalian ekspor AI.
Sasaran lainnya mencakup pihak yang mendalami penerapan kecerdasan buatan pada sektor militer.
Para target bekerja di berbagai universitas, lembaga think tank, serta sejumlah firma hukum di Amerika Serikat.
Kendati demikian, pihak Proofpoint belum menemukan bukti adanya pembobolan yang berhasil pada organisasi target.
Meski begitu, kelompok tersebut dinilai sangat gigih dan akan terus mencoba melancarkan serangan.
Peneliti Proofpoint, Mark Kelly, meyakini aktor ancaman ini selaras dengan kepentingan pemerintah China.
Keyakinan tersebut didasarkan pada pola penargetan yang konsisten serta temuan infrastruktur teknis di lapangan.
Penyamaran Menjadi Mantan Pejabat
Dalam operasi tersebut, agen rahasia China dicurigai memakai identitas Lynne Parker.
Parker merupakan mantan pejabat teknologi senior di Gedung Puth pada masa pemerintahan Trump dan Joe Biden.
Hacker mengirimkan email undangan komite penasihat kebijakan AI palsu kepada seseorang di firma hukum AS.
Pesan tersebut turut menyertakan dokumen berisi malware yang diklaim memuat informasi mengenai komite.
Parker yang asli menyatakan bahwa rekan-rekannya mulai menghubunginya usai menerima email mencurigakan.
Ia mengaku sedih karena relasi yang ia bangun sepanjang karier dieksploitasi pihak lain untuk menipu.
Menargetkan Karyawan Anthropic
Selain mantan pejabat, para peretas juga menduplikasi identitas karyawan Anthropic.
Mereka mengirim email kepada seorang analis kebijakan AI di lembaga think tank Amerika Serikat.
Subjek pesan tersebut berkaitan dengan permintaan umpan balik mengenai integrasi militer Claude.
Melalui modus ini, pelaku berupaya mencuri kredensial email milik sang analis.
Hingga kini, para pakar menilai agen siber China terus mengincar hampir seluruh lapisan ekosistem AI.
