⌂ Beranda › News › Edukasi keamanan siber Unpam ingatkan bahaya password 8 karakter
News

Edukasi keamanan siber Unpam ingatkan bahaya password 8 karakter

Ilustrasi keamanan siber dan perlindungan data pribadi
Peramal COVID' Sebut Pes Paru Siberia, Begini Tingkat Bahayanya Pexels
A A Ukuran Teks16px

Kata sandi yang hanya terdiri atas delapan karakter ternyata membutuhkan waktu sekitar 39 menit saja untuk dibobol oleh peretas.

Sebaliknya, password dengan panjang 12 karakter memerlukan waktu ribuan tahun untuk bisa dipecahkan oleh sistem penyerang.

Edukasi Literasi Keamanan Siber

Fakta tersebut mengawali kegiatan sosialisasi literasi keamanan siber yang diselenggarakan oleh Tim PKM mahasiswa S2 Teknik Informatika Universitas Pamulang.

Acara bertema Cybersecurity Awareness: Protect You and Your Data itu menyasar pengurus serta jamaah Yayasan Masjid Babussalam Kampung Belajar di Pamulang Timur.

Kegiatan ini bertujuan agar para peserta mempunyai kesadaran penuh mengenai perlindungan data pribadi di tengah arus informasi era kecerdasan buatan.

Masyarakat diingatkan agar tidak merasa aman hanya karena menganggap diri mereka bukan siapa-siapa yang menjadi target utama kejahatan.

Data keuangan, data medis, hingga akun email pribadi tetap menjadi sasaran empuk bagi para penyerang siber.

Manusia dinilai sebagai garis pertahanan pertama sekaligus mata rantai yang paling sering diincar dalam keamanan informasi.

Prinsip dasar keamanan informasi mengharuskan data bersifat rahasia, utuh, serta selalu dapat diakses ketika dibutuhkan.

Aspek hukum perlindungan data tersebut juga berpayung pada Undang-Undang ITE serta UU PDP Nomor 27 Tahun 2022.

Peserta sosialisasi diajak untuk meninggalkan kebiasaan menggunakan nama anak, tanggal lahir, maupun deretan angka sederhana sebagai kata sandi.

Kunci utama pengamanan terletak pada panjang karakter sandi, bukan pada tingkat kerumitannya saat dibuat.

Pengguna dianjurkan memanfaatkan frasa sandi minimal 12 karakter dan menerapkan password berbeda untuk setiap akun digital yang dimiliki.

Penyimpanan sandi disarankan menggunakan aplikasi pengelola khusus alih-alih dicatat pada selembar kertas atau catatan tempel.

Lapisan pengamanan berikutnya dapat diperkuat melalui metode autentikasi multifaktor atau MFA untuk verifikasi tambahan.

Verifikasi tambahan tersebut dapat berupa pemindaian biometrik, aplikasi autentikator, email, ataupun kode sekali pakai.

Penggunaan MFA diklaim mampu menurunkan probabilitas pengambilalihan akun hingga 99,9 persen bagi para penggunanya.

Selain itu, peserta juga dibekali dengan langkah-langkah praktis dalam mengenali serta menangkal ancaman phishing yang kian marak.

Penerapan kebiasaan harian seperti rutin mencadangkan data dan memperbarui sistem keamanan menjadi benteng pertahanan awal di ruang digital.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru