Kecerdasan buatan kini membutuhkan akses langsung ke berbagai dokumen penting hingga informasi pelanggan demi menjalankan tugasnya.
Kondisi tersebut memicu pertanyaan seputar batasan akses serta keamanan data internal yang terhubung dengan sistem.
Carlos Quaderi selaku Head of Asia Pacific Zoom memberikan penjelasan terkait perlindungan data perusahaan tersebut.
Menurutnya, akses kecerdasan buatan seharusnya tetap mengikuti kebijakan serta aturan yang telah diterapkan perusahaan sebelumnya.
Pihak Zoom memastikan bahwa pengaturan tersebut tidak mengambil alih sistem pengamanan yang sudah dimiliki oleh pelanggan.
Izin yang didapatkan sistem otomatis selaras dengan batasan hak akses masing-masing pengguna di dalam perusahaan.
Sistem pintar ini tidak akan bisa membuka informasi yang berada di luar parameter wewenang individu tersebut.
Berbagai platform penyimpanan seperti OneDrive hingga Salesforce tetap tunduk pada pengaturan administrator organisasi.
Selain itu, Zoom menerapkan standar pengamanan ketat mulai dari enkripsi hingga lokasi penyimpanan data.