Kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan kini memicu kabut asap yang bergerak melintasi batas negara. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap penurunan kualitas udara di sejumlah negara tetangga.
Kementerian Kehutanan mendeteksi ratusan titik panas berkepercayaan tinggi di Indonesia. Situasi ini diperparah oleh cuaca kering yang membuat lahan gambut lebih mudah terbakar.
Partikel mikroskopis dari sisa pembakaran vegetasi mampu bertahan lama di udara bebas. Arah tiupan angin kemudian membawa partikel tersebut menyeberangi lautan dan perbatasan administratif.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebutkan pola sebaran asap dapat bergerak menuju wilayah utara hingga Sabah, Malaysia. Kecepatan angin serta kondisi atmosfer menjadi penentu utama arah sebarannya.
Lahan gambut menyimpan bara di bawah permukaan tanah meskipun api tampak padam. Hal ini menyebabkan produksi asap dapat berlangsung terus-menerus selama sumber api belum sepenuhnya dikendalikan.