⌂ Beranda › News › Asap Karhutla Masuk Rumah di Kalimantan, Riset Ungkap Bahaya Polusi Mikro
News

Asap Karhutla Masuk Rumah di Kalimantan, Riset Ungkap Bahaya Polusi Mikro

Kabut asap karhutla menyelimuti wilayah Kalimantan
Asap Pekat Kepung Permukiman Saat Karhutla Kalimantan Semakin Parah Pexels
A A Ukuran Teks16px

Warga di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan mendapati rumah mereka tetap tidak sepenuhnya aman dari asap meskipun telah menutup rapat pintu serta jendela.

Partikel polusi berukuran sangat mikro dapat menyusup melalui celah bangunan serta ventilasi rumah.

Kondisi tersebut menjadi masalah nyata di Kalimantan karena kebakaran berlangsung berbulan-bulan dan menimbulkan kabut pekat.

Laporan dari Associated Press menyebutkan warga Kalimantan Barat masih menghadapi asap pekat setelah kebakaran terjadi lebih dari tiga bulan.

Dampak kabut asap pekat tersebut bahkan menjalar hingga ke Malaysia dan Singapura.

Penelitian berjudul Wildfire smoke indoors mengukur paparan PM2.5 di Kalimantan Tengah selama kebakaran pada 2023.

Para peneliti dari Oregon State University memasang 13 sensor di berbagai lokasi perkotaan dan perdesaan.

Hasil pengamatan menunjukkan rata-rata konsentrasi PM2.5 di luar ruangan mencapai 136 mikrogram per meter kubik.

Kebakaran menyumbang sekitar 90 mikrogram per meter kubik dari total konsentrasi polusi tersebut.

Rasio median konsentrasi PM2.5 di dalam dan luar rumah wilayah perdesaan mencapai 1,01.

Angka tersebut mengindikasikan konsentrasi polusi di dalam rumah hampir sama tingginya dengan kondisi di luar.

Studi dalam jurnal Atmosphere pada 2024 memperkirakan 1,62 juta orang di Kalimantan Tengah terpapar udara tidak sehat hingga berbahaya.

Partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil ini mampu terbawa aliran udara masuk ke dalam bangunan.

Penggunaan pendingin ruangan juga tidak otomatis menyelesaikan masalah polusi di dalam rumah.

Banyak AC hanya mendinginkan dan mengedarkan kembali udara ruangan tanpa menyaring seluruh PM2.5 dari luar.

Efektivitas pembersih udara sangat bergantung pada jenis filter, kapasitas alat, serta kondisi udara sekitar.

Perlindungan perangkat tersebut memiliki batas ketika konsentrasi asap di luar ruangan sangat pekat.

Para peneliti menegaskan perbaikan desain bangunan untuk membatasi polusi perlu berjalan bersama upaya menekan kebakaran gambut.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru