⌂ Beranda › News › Jepang Darurat Serangan Siber, 53 Perusahaan Jadi Korban
News

Jepang Darurat Serangan Siber, 53 Perusahaan Jadi Korban

Ilustrasi serangan siber terhadap Jepang
Awas, Situs Pre-order iPhone Duo Palsu Sebar Malware DarkSword Pexels
A A Ukuran Teks16px

Jepang menyatakan kondisi darurat setelah puluhan perusahaan menjadi korban serangan siber.

Badan Kepolisian Nasional Jepang mencatat setidaknya 53 perusahaan terdampak serangan ransomware.

Korban mencakup perusahaan manufaktur, konstruksi, rumah sakit, dan sekolah.

Dua perusahaan mengonfirmasi peretasan, yaitu peritel barang bekas Bookoff Group dan operator kereta api East Japan Railway Company.

Mereka mengungkap lebih dari 6 juta data pelanggan mungkin telah bocor.

Peringatan Regulator dan Pernyataan Pejabat

Regulator layanan keuangan Jepang memperingatkan bank untuk tidak menerima surat izin mengemudi sebagai bukti identitas pembukaan rekening baru.

Peringatan itu muncul setelah perusahaan penyewaan mobil Times Car diretas hingga foto SIM pengguna bocor.

Menteri Keamanan Siber Jepang Toshiharu Furukawa menilai situasi sudah sangat kritis.

Kepala Markas Besar Strategi Keamanan Siber Nasional (NCSH) Masaaki Taiwa menyebutnya sebagai keadaan darurat.

Pakar keamanan siber mencurigai serangan diperparah oleh AI, meski belum ada bukti yang mengaitkannya.

Direktur perusahaan keamanan siber Blackpanda Masaki Hiraoka mengatakan AI memudahkan hacker menjalankan serangan yang sebelumnya butuh persiapan matang.

Presiden perusahaan keamanan siber S&J Nobuo Miwa menyebut AI memungkinkan hacker asing mengatasi hambatan bahasa.

"AI tidak pernah lelah... Menurut saya, Jepang pada dasarnya sedang menjadi sasaran pengeboman besar-besaran," kata Miwa.

Data TrendAI menunjukkan Jepang mencatat lebih banyak insiden keamanan siber dalam sembilan bulan pertama tahun 2026 dibandingkan sepanjang tahun 2026.

Korea Selatan juga menjadi target, dengan lembaga keuangan dan gereja menjadi korban serangan siber.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru