Citra satelit NASA merekam sebaran karbon monoksida di atmosfer yang meliputi wilayah Indonesia serta sebagian kawasan Asia Tenggara.
Visualisasi dari sistem Eyes on the Earth menunjukkan konsentrasi gas tersebut lewat warna oranye hingga merah tua.
Pengamatan harian yang diambil pada ketinggian sekitar 500 milibar itu mendeteksi area pekat di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Sementara itu, bagian utara dan selatan peta tampak didominasi warna kuning, hijau, serta biru.
Perbedaan warna di peta tersebut menunjukkan variasi konsentrasi gas yang terdeteksi pada lapisan atmosfer yang diamati.
Karbon monoksida sendiri umumnya terbentuk dari proses pembakaran tidak sempurna yang mengandung unsur karbon.
Analisis Pergerakan Gas Atmosfer
Sumber gas tersebut dapat berasal dari aktivitas manusia, penggunaan bahan bakar fosil, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Gas dari titik sumber juga berpotensi terbawa oleh hembusan angin ke tempat yang lebih jauh.
Kendati demikian, peta satelit tersebut tidak menampilkan lokasi titik api secara langsung. Konsentrasi gas yang tinggi dipengaruhi oleh emisi serta pergerakan massa udara di atmosfer.
Pihak pengamat menyatakan data satelit tetap memerlukan perbandingan dengan informasi arah angin serta catatan kebakaran lain.
Selain itu, visualisasi ketinggian tersebut tidak bisa disamakan langsung dengan kualitas udara di permukaan.