Perusahaan ritel online global saat ini telah mengoperasikan lebih dari 1 juta armada robot di fasilitas gudang mereka.
Armada otomatisasi tersebut mencakup mesin penyortir, lengan mekanis, serta robot pengangkut barang yang beroperasi di dalam area kerja.
Kehadiran pasukan mesin ini diklaim mampu mempercepat pengiriman dan menekan biaya operasional perusahaan secara signifikan.
Namun, bagi lebih dari 1,5 juta tenaga kerja penuh dan paruh waktu, perkembangan ini mendatangkan ancaman nyata.
Profesor bisnis George Mason University, Brad Greenwood, menyatakan bahwa robot-robot tersebut tidak sekadar memangkas biaya.
Mesin-mesin otomatis itu secara harfiah mendesak serta menyingkirkan posisi manusia di dalam area fasilitas kerja.
Berbeda dari otomatisasi masa lalu yang menjauhkan pekerja dari area berbahaya, robot gudang kini berada dalam jarak fisik yang sangat dekat.
Selain itu, kehadiran robot tersebut juga memiliki kemampuan untuk mendikte tempo kerja para pegawai di lapangan.
Dinamika baru ini turut melemahkan posisi tawar tenaga kerja manusia serta potensi perundingan kolektif serikat pekerja.
Di sisi lain, pencapaian otomatisasi canggih ini kerap dijadikan sebagai sarana publisitas untuk menutupi berbagai risiko di tempat kerja.
Direktur koalisi serikat pekerja Strategic Organizing Center, Joan Moriarty, menyoroti masalah tersebut secara terbuka.
Menurutnya, perusahaan lebih gemar membicarakan teknologi robotik terbaru untuk mengalihkan perhatian dari puluhan ribu kasus cedera.
Kondisi di fasilitas gudang dinilai semakin berbahaya seiring dengan peningkatan jumlah robot yang diterjunkan ke area operasional.
