Singapura kini tengah menghadapi krisis polusi udara parah akibat kabut asap lintas batas.
Kondisi ini dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Sumatra dan Kalimantan.
Dampak Karhutla dan Fenomena El Niño
Wakil Direktur Badan Lingkungan Nasional Singapura Jason Evans Tan menyatakan periode buruk ini dimulai sejak 5 Oktober.
Situasi tersebut mencatatkan durasi kualitas udara tidak sehat terpanjang sejak krisis besar pada 2015.
Lembaga pemantau IQAir menempatkan Singapura dan Kuala Lumpur dalam daftar kota paling tercemar di dunia.
Pakar atmosfer Wang Jingyu menjelaskan fenomena Super El Niño memperparah kekeringan di kawasan Asia Tenggara.
Suhu laut yang lebih rendah mengurangi penguapan sehingga curah hujan menjadi sangat minim untuk memadamkan api.
Pemerintah Singapura telah mengidentifikasi tujuh perusahaan di Indonesia yang lahannya diduga menjadi sumber asap.
Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Grace Fu menyebut pihaknya berencana mengirimkan pemberitahuan kepada perusahaan terkait.