Seorang perempuan di Philadelphia harus berurusan dengan pihak berwajib setelah sengaja menghalangi laju robot pengantar barang milik Uber.
Tindakan tersebut ia lakukan sebagai bentuk penolakan terhadap masifnya penggunaan teknologi otonom yang dinilai merebut lapangan pekerjaan manusia.
Kehadiran robot otonom kini memang semakin lazim di jalanan kota oleh berbagai perusahaan besar seperti Amazon dan Uber.
Situasi ini memicu kekhawatiran mendalam mengenai masa depan para pekerja di sektor pengantaran.
Berdasarkan laporan, aksi protes ini berujung pada pemanggilan aparat kepolisian setelah pelaku yang diketahui bernama Carolyn Marvin menolak pergi.
Marvin terus berdiri di depan robot yang sedang bertugas di Center City meskipun telah diminta berulang kali untuk menyingkir.
Akibat perbuatannya, ia langsung ditangkap dan dijerat dengan dakwaan melakukan tindakan mengganggu ketertiban umum.
Marvin secara terbuka mengakui bahwa aksinya merupakan wujud protes berkelanjutan terhadap mesin yang menggantikan peran pekerja manusia.
Ia menyebut bahwa dirinya sadar betul robot-robot tersebut mengambil alih pekerjaan di bidang logistik.
Oleh karena itu, ia memilih untuk berdiri di depannya setiap kali menjumpai robot tersebut di ruang publik.
Aksi serupa ternyata pernah ia lakukan sebelumnya pada bulan September lalu saat menghadapi situasi serupa.
Ia berdalih bahwa demonstrasi di trotoar untuk memprotes keberadaan robot pengantar barang merupakan hak yang dijamin undang-undang.
Meski sempat mendekam dalam penahanan, Marvin mengaku sama sekali tidak berniat menghentikan aksi protesnya.
Ia justru berharap penangkapannya mampu menarik perhatian publik untuk memicu diskusi luas mengenai dampak kecerdasan buatan.