Penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Pemerintah mengandalkan kombinasi pemadaman darat dan udara serta operasi modifikasi cuaca untuk mengatasi masalah tersebut.
Kendala Pemadaman dan Sisa Area
Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana per 20 Oktober mencatat masih ada 481,26 hektare area karhutla yang belum padam di enam provinsi prioritas.
Luas tersebut setara dengan 48,9% dari total target area penanganan yang mencapai sekitar 983,34 hektare.
Sementara itu, area yang dilaporkan sudah berhasil dipadamkan mencapai 502,08 hektare atau sekitar 51,1%.
Sisa area terbesar tercatat berada di Kalimantan Tengah seluas 321,35 hektare.
Wilayah Sumatra Selatan menyusul dengan 84 hektare serta Jambi sekitar 70 hektare yang belum padam.
Faktor Cuaca dan Ketersediaan Air
Asisten Deputi Bidang Koordinasi Kekuatan Kemampuan dan Kerja Sama Pertahanan Kemenko Polkam, Brigjen TNI (Mar) Kresno Pratowo, menyoroti masalah ketersediaan sumber air.
Selain itu, mobilitas kendaraan pengangkut air serta jarak pandang rendah akibat kabut asap turut menghambat operasi pemadaman.
Operasi water bombing di Kalimantan Tengah bahkan tidak dapat dilakukan pada tanggal 20 Oktober karena jarak pandang yang buruk.
Di Sumatra Selatan, sebanyak 81 kali pengeboman air hanya menghasilkan pemadaman sekitar 20 hektare dari target 58 hektare.
Operasi Modifikasi Cuaca
Pemerintah juga menjalankan operasi modifikasi cuaca untuk membantu pembasahan wilayah rawan dan lahan gambut.
Namun, efektivitas langkah ini sangat bergantung pada kondisi atmosfer serta ketersediaan awan yang mendukung di lokasi.
Operasi tersebut pada 20 Oktober dilaksanakan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, serta Sumatra Selatan.
Sebaliknya, Jambi tidak menggelar penerbangan harian karena pertumbuhan awan dinilai kurang mendukung.
Pendinginan dan Pencegahan
Direktur Penanganan Darurat Wilayah III BNPB, Nelwan Harahap, menegaskan bahwa penanganan tidak boleh berhenti saat api terlihat padam.
Proses pendinginan dan pembasahan sangat penting terutama pada lahan gambut yang berpotensi menyimpan bara tersembunyi.
Kementerian Kehutanan melalui Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Thomas Nifinluri turut memaparkan strategi pencegahan.
Strategi tersebut mencakup patroli terpadu, pembukaan lahan tanpa bakar, pemberdayaan masyarakat, serta pemulihan wilayah terdampak.
