Seorang ibu pengungsi gempa bernama Arciana melahirkan anak ketiganya di dalam tenda darurat di Desa Kamarora B, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Selasa (16/6) malam.
Persalinan itu terjadi setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang berpusat di Kota Palu mengguncang wilayah tersebut.
Proses melahirkan terpaksa dilakukan di tenda pengungsian karena akses menuju rumah sakit terlalu jauh dan kondisi lingkungan belum kondusif akibat gempa susulan.
Arciana mengaku saat melahirkan masih merasakan getaran gempa. "Jam 11 gempa, pas jam 8 malam sudah melahirkan.
Sudah tidak bisa lagi dibawa ke rumah sakit karena jauh. Waktu saya melahirkan itu masih gempa," ujarnya.
Tanpa fasilitas medis yang memadai, persalinan dibantu oleh orang tua dan tokoh adat setempat. "Iya waktu melahirkan ada orang tua kami yang bantu.
Ada juga seperti dukun di sini," jelas Arciana.
Bayi yang lahir dalam kondisi sehat tersebut kemudian diberi nama Efker. "Nama bayi saya Efker.
Efker artinya gempa. Ini adalah anak saya yang ketiga," kata Arciana.
Peristiwa ini menjadi gambaran sulitnya kondisi pengungsi pascagempa di Sigi, di mana akses layanan kesehatan masih sangat terbatas.