⌂ Beranda News Penurunan Harga Sulfur Global Jadi Katalis Positif Emiten Nikel HPAL

Penurunan Harga Sulfur Global Jadi Katalis Positif Emiten Nikel HPAL

Penurunan Harga Sulfur Global Jadi Katalis Positif Emiten Nikel HPAL
Ilustrasi gedung perkantoran PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE)
A A Ukuran Teks16px

Penurunan harga sulfur akan lebih menguntungkan emiten berbasis HPAL dibandingkan emiten yang mengandalkan jalur RKEF.

“Dampak dari normalisasi sulfur ini tidak merata, emiten yang memiliki porsi exposure besar ke jalur HPAL akan jauh lebih diuntungkan ketimbang emiten yang murni bermain di jalur RKEF yang menghasilkan feronikel atau NPI untuk industri baja anti karat karena RKEF lebih sensitif terhadap biaya batu bara ketimbang sulfur,” tukas Nafan.

Salah satu emiten yang dinilai paling diuntungkan adalah PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).

Nafan menyebut, NCKL merupakan pelaku HPAL yang paling fokus dan agresif di Indonesia.

Kontribusi bisnis HPAL terhadap pendapatan perusahaan sangat besar, sehingga penurunan harga sulfur global dan normalisasi biaya logistik berpotensi menurunkan biaya produksi secara signifikan.

Karena ketergantungannya yang tinggi terhadap proses HPAL, NCKL dinilai menjadi emiten yang paling sensitif terhadap pergerakan harga sulfur.

in2

Sementara itu, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) juga diperkirakan memperoleh manfaat dari stabilitas harga sulfur.

Itu sejalan dengan besarnya keterlibatan MBMA dalam proyek HPAL yang dikembangkan oleh PT Indonesia Konawe Industrial Park (IKIP), perusahaan patungan antara Merdeka Battery Minerals (MBM) dengan Tsingshan Group.

Adapun, IKIP menjadi proyek strategis nasional (PSN) yang berfokus sebagai pusat pengolahan nikel dan bahan baku baterai kendaraan listrik di dalam negeri.

MBMA juga memiliki proyek Acid Iron Metal (AIM) yang memanfaatkan sulfur sebagai bahan baku untuk menghasilkan asam sulfat.

Dengan demikian, normalisasi harga sulfur dan berbagai komponen biaya input global lainnya membuat perhitungan keekonomian proyek-proyek yang dikembangkan MBMA menjadi lebih efisien dan lebih mudah diproyeksikan.

Kondisi tersebut diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap pengembangan bisnis perusahaan pada semester II-2026.

“Ditambah lagi MBMA itu memiliki proyek Acid Iron Metal.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru