Kedua, dukungan terhadap ekonomi kreator.
Banyak anak muda kini menjadi kreator konten, pelaku UMKM, pengembang aplikasi, dan pekerja ekonomi digital yang membutuhkan ekosistem pendukung kreativitas.
Ketiga, keamanan dan kesejahteraan digital. Semakin banyak aktivitas melalui perangkat seluler, semakin penting perlindungan data pribadi, keamanan digital, dan kesehatan mental pengguna.
>>> Euforia Suporter Brasil di Ternate Sambut Kemenangan atas Skotlandia
Keempat, pengembangan komunitas dan talenta digital. Anak muda membutuhkan ruang untuk belajar, berkolaborasi, dan membangun jejaring.
Kerja Sama Teknologi Seluler dengan AI
Kolaborasi antara teknologi seluler dan AI menjadi semakin relevan karena anak muda adalah kelompok yang paling cepat mengadopsi teknologi baru.
Baru-baru ini, Tri meluncurkan kolaborasi dengan Google Gemini untuk mendukung ekosistem AI.
"Banyak perusahaan mulai mengintegrasikan AI ke dalam layanan mereka untuk menjawab kebutuhan generasi muda. Kolaborasi Tri dengan Google Gemini itu baru salah satunya," ungkap Donny.
Melalui kolaborasi tersebut, akses pengguna terhadap perangkat AI semakin mudah. Didukung konektivitas Tri dengan jaringan Indosat 5G, penggunaan Google Gemini semakin lancar dalam kehidupan sehari-hari.
Pengguna dapat mencari ide, merancang konsep konten, membuat foto menarik, hingga menyusun itinerary liburan yang personal.
Hanya dengan membeli produk isi ulang Happy dari Tri mulai Rp 10 ribu, pengguna bisa mengeksplorasi fitur Google Gemini tanpa biaya berlangganan tambahan.
Donny menjelaskan tujuan akhirnya bukan membuat anak muda bergantung pada AI, melainkan semakin berdaya.
Ia yakin ke depan AI akan terus menyasar dunia pendidikan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih personal dan interaktif.
"Integrasi AI ke perangkat seluler membuat AI hadir dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari mencari informasi hingga membantu produktivitas.
Pemanfaatan AI dalam aplikasi kreatif membantu anak muda membuat konten, riset, dan mengembangkan ide lebih cepat," kata Donny.
"AI kini tidak lagi hadir sebagai teknologi yang berdiri sendiri, karena AI mulai menjadi bagian dari pengalaman digital sehari-hari," imbuhnya.
AI membantu bekerja lebih cepat dan efisien, tetapi nilai terbesarnya terasa ketika dipadukan dengan kemampuan manusia untuk berpikir kritis, memahami konteks, menghargai keberagaman, dan berempati.
Itulah pembeda utama manusia di era digital.
"Maka cepat tidak lagi cukup, mesti juga tepat. AI dapat membantu kita mengetahui apa yang mungkin dilakukan.
Tetapi manusia tetap harus memutuskan apa yang seharusnya dilakukan dengan tepat.
>>> Klasemen Akhir Grup A Piala Dunia 2026: Meksiko Sempurna, Afsel Kedua
Pondasinya adalah kebijakan dan kebijaksanaan, yang hingga saat ini masih hanya dapat lahir dari nalar, empati, dan harapan manusia terhadap masa depan," tutupnya.