⌂ Beranda News Pemerintah Perlu Langkah Makro Fiskal Atasi Pelemahan Rupiah

Pemerintah Perlu Langkah Makro Fiskal Atasi Pelemahan Rupiah

Pemerintah Perlu Langkah Makro Fiskal Atasi Pelemahan Rupiah
Ilustrasi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang melemah
A A Ukuran Teks16px

Perekonomian nasional tengah menghadapi tantangan signifikan akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level psikologis Rp 18.100 per dolar Amerika Serikat.

Situasi ini dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal, seperti kenaikan harga minyak mentah akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta tren aliran dana ke aset aman (safe haven rush).

>>> Timnas Brasil Tekuk Mesir 2-1 Berkat Gol Penentu Endrick

Sentimen negatif domestik turut memperburuk keadaan, termasuk ketidakpastian kebijakan fiskal, perubahan prospek rating aset finansial, dan isu independensi Bank Indonesia pasca-amandemen undang-undang oleh parlemen.

Intervensi konvensional menggunakan cadangan devisa dinilai hanya mampu menahan sementara dengan biaya yang mahal.

Otoritas moneter dan pemerintah didesak untuk mengambil tindakan tegas dan terkoordinasi melalui kebijakan makro fiskal yang kuat guna memulihkan kepercayaan investor global.

Langkah awal yang krusial adalah memulihkan jangkar moneter dengan menegaskan kembali independensi kelembagaan Bank Indonesia.

Presiden, Menteri Keuangan, dan Pimpinan DPR perlu segera menerbitkan maklumat bersama tingkat tinggi.

Maklumat tersebut bertujuan menegaskan komitmen mutlak bahwa amandemen regulasi oleh parlemen tidak akan mengintervensi independensi Bank Indonesia dalam menetapkan kebijakan suku bunga serta stabilisasi nilai tukar.

Bank Indonesia diharapkan melakukan percepatan kenaikan suku bunga (front loading rate hike) dengan menaikkan BI Rate sebesar 50 hingga 75 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur terdekat sebagai terapi kejut (shock therapy).

Langkah moneter ini perlu didukung optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) melalui imbal hasil yang kompetitif.

Gejolak hebat pada mata uang rupiah tidak lepas dari dinamisnya pergeseran peta makroekonomi global sepanjang paruh pertama tahun ini.

Suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) yang bertahan tinggi lebih lama serta memanasnya geopolitik Teluk memicu aliran modal asing keluar dari pasar negara berkembang.

Arus modal keluar dari pasar obligasi dan saham domestik tercatat mencapai miliaran dolar AS sepanjang kuartal terakhir.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru