⌂ Beranda News Paradoks Likuiditas Melimpah di Tengah Menyusutnya Kelas Menengah Indonesia

Paradoks Likuiditas Melimpah di Tengah Menyusutnya Kelas Menengah Indonesia

Paradoks Likuiditas Melimpah di Tengah Menyusutnya Kelas Menengah Indonesia
Ilustrasi kelas menengah Indonesia menghadapi tantangan ekonomi
A A Ukuran Teks16px

Pola distribusi likuiditas juga cenderung menarik, dengan pertumbuhan simpanan kelompok saldo besar lebih cepat.

>>> Timnas U-19 Indonesia Taklukkan Timor Leste, Hadapi Vietnam di Laga Penentu

Dari sisi pembiayaan, kredit investasi tumbuh jauh lebih pesat dibandingkan kredit modal kerja. Kredit investasi penting untuk jangka panjang, namun manfaatnya membutuhkan waktu lebih lama untuk dirasakan.

Sebaliknya, kredit modal kerja dan pembiayaan usaha kecil memiliki dampak lebih cepat terhadap penciptaan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat.

Ketika likuiditas lebih banyak terkonsentrasi pada sektor dan kelompok yang sudah kuat, manfaat pertumbuhan cenderung terkumpul pada kelompok yang sama.

Berbagai kajian menunjukkan pertumbuhan upah riil pekerja Indonesia cenderung tertahan. Kenaikan biaya hidup membuat daya beli tidak tumbuh seiring peningkatan pendapatan nominal.

Hal ini menciptakan tekanan perlahan namun terus-menerus bagi keluarga kelas menengah.

Tekanan ini tampak dari semakin tipisnya bantalan ekonomi rumah tangga.

Ketika biaya pendidikan, kesehatan, transportasi, dan kebutuhan pokok meningkat lebih cepat dibandingkan kemampuan menabung, ruang aman keuangan keluarga menyempit.

Dalam situasi ini, pembiayaan dan kredit konsumsi sering kali berfungsi sebagai jembatan untuk mempertahankan standar hidup.

Semakin banyak rumah tangga bergantung pada fasilitas pembiayaan untuk menjaga konsumsi atau menghadapi pengeluaran tak terduga.

Ketika kredit mulai menggantikan fungsi tabungan sebagai bantalan ekonomi, kerentanan sosial-ekonomi pun meningkat. Ini adalah inti paradoks yang dihadapi Indonesia.

Sistem keuangan memiliki likuiditas lebih besar, uang beredar tumbuh hampir dua digit, belanja pemerintah meningkat, dan investasi bergerak.

Namun, kelompok penopang konsumsi nasional justru mengalami tekanan dan sebagian turun kelas.

Pertanyaan terpenting hari ini bukanlah berapa banyak uang yang beredar, melainkan berapa banyak keluarga yang masih mampu mempertahankan status kelas menengahnya.

Sebab ketika semakin banyak rumah tangga turun kelas di tengah likuiditas yang terus bertambah, persoalannya adalah kemampuan ekonomi untuk membagikan manfaat pertumbuhan secara lebih merata.

Ukuran keberhasilan ekonomi tidak terletak pada besarnya angka likuiditas semata. Keberhasilan yang sesungguhnya tercermin dari kemampuan masyarakat mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya.

>>> Adidas dan Kanmo Group Buka Toko Spesialis Sepak Bola Pertama di Jakarta

Uang yang beredar di antara institusi besar tidak selalu memiliki makna yang sama dengan uang yang berputar di pasar tradisional atau kantong keluarga kelas menengah.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru