Jumlah uang beredar Indonesia dalam arti luas (M2) mencapai Rp 10.355 triliun pada Maret 2026.
Dalam teori ekonomi, likuiditas yang melimpah semestinya menjadi kabar baik, menandakan aktivitas ekonomi meningkat dan peluang yang lebih luas.
>>> Insentif Pajak Menanti Hotel, Kafe, dan Restoran dalam Lomba Pilah Sampah DKI
Namun, fenomena yang terjadi justru sebaliknya.
Jumlah kelas menengah Indonesia terus menyusut, turun dari sekitar 59,5 juta orang pada 2018 menjadi 46,7 juta pada 2025.
Sebagian besar dari mereka turun kelas ke kelompok yang lebih rentan secara ekonomi.
Fenomena ini penting karena kelas menengah menyumbang lebih dari 80 persen konsumsi rumah tangga nasional. Melemahnya kelompok ini dapat menggerus daya tahan konsumsi domestik.
Paradoks ekonomi Indonesia muncul ketika uang dalam sistem keuangan bertambah, tetapi rasa aman ekonomi banyak keluarga justru berkurang.
Pertanyaannya adalah mengapa pertumbuhan likuiditas yang besar belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi penguatan daya beli masyarakat.
Pertumbuhan uang beredar saat ini salah satunya didorong oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat yang meningkat pesat, melampaui pertumbuhan kredit perbankan.
Hal ini menunjukkan dinamika fiskal memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan likuiditas.
Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di atas lima persen, salah satu pendorong utamanya adalah peningkatan belanja pemerintah.
Namun, tambahan likuiditas yang tercipta tidak selalu mengalir ke sektor yang langsung meningkatkan kesejahteraan rumah tangga.
Bagi keluarga kelas menengah, yang dirasakan adalah harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, cicilan rumah, dan peluang kerja.
Likuiditas makro yang sehat tidak serta-merta terasa sebagai perbaikan ekonomi di tingkat rumah tangga jika tidak diikuti peningkatan pendapatan riil.
Konsep 'velocity of money' atau kecepatan perputaran uang menggambarkan efektivitas uang menghasilkan aktivitas ekonomi.
Jika uang beredar tumbuh hampir secepat pertumbuhan ekonomi nominal, tambahan likuiditas tidak selalu meningkatkan aktivitas ekonomi sebanding.
Sebagian likuiditas dapat tersimpan dalam instrumen keuangan, deposito, atau aset jangka panjang yang manfaatnya tidak langsung dirasakan masyarakat luas.