Kondisi ekonomi dan keuangan Indonesia saat ini dinilai lebih baik dibandingkan saat Krisis Ekonomi 1997/1998.
Hal ini menunjukkan bahwa situasi sekarang tidak akan menyeret Indonesia kembali ke jurang krisis, asalkan kepercayaan pasar dapat segera dipulihkan.
>>> Jadwal Final Indonesia Open 7 Juni 2026: Jonatan Christie Berburu Gelar
Perbedaan mendasar terlihat dari kecepatan pelemahan nilai rupiah. Pada 1997/1998, pelemahan terjadi sangat drastis dalam hitungan hari.
Sementara itu, pelemahan rupiah saat ini berlangsung lebih lambat dan tingkat depresiasinya tidak separah periode krisis tersebut.
Bahkan, depresiasi rupiah saat ini masih lebih baik jika dibandingkan dengan Lira Turki dan Rupee India.
Fundamental ekonomi Indonesia saat ini juga menunjukkan perbaikan signifikan.
Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,61 persen, dengan inflasi yang terjaga di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
Cadangan devisa per akhir April 2026 mencapai Rp 146,2 Miliar, yang setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri.
Angka ini jauh melampaui batas aman standar internasional yang menetapkan minimal 3 bulan impor.
Bank Indonesia (BI) telah mengambil berbagai langkah kebijakan untuk menahan depresiasi rupiah. Salah satunya adalah dengan melepas sekitar 10 miliar dolar AS ke pasar.
BI juga membatasi pembelian dolar AS tanpa underlying sebesar 25.000 dolar AS per orang per bulan.
Selain itu, Indonesia telah menerapkan skema Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Skema ini sudah berlaku dalam transaksi ekonomi antara Indonesia dengan Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab, dan akan terus diperluas ke negara lain.
>>> Imigrasi Depok Tangkap Buronan Pelecehan Seksual AS yang Bersembunyi di Bunker
Pembentukan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang selalu berkoordinasi dan memiliki protokol pencegahan krisis keuangan juga menjadi faktor penguat stabilitas.
Memulihkan Kepercayaan Pasar
Meskipun demikian, depresiasi rupiah terhadap dolar AS terus berlanjut, bahkan melampaui batas psikologis Rp 18.000 per dolar AS.