Para kru menyaksikan kehancuran secara langsung. "Setiap kali serangan berlangsung sepanjang malam, tidak ada dari kami yang bisa tidur," ujar insinyur Hasan.
Militer Iran mengawasi ketat jalur laut dengan kapal perang, kapal selam, dan pengeras suara. "Kapal-kapal ini menggunakan lampu terang.
Kami mendengar pengumuman melalui pengeras suara untuk mencegah siapa pun melintas," kata Sajid Masood, koki kapal tanker minyak asal Pakistan.
Perusahaan Kurangi Tunjangan
Perusahaan pelayaran mulai mengurangi fasilitas tunjangan dan opsi kenaikan gaji yang sempat diberikan di awal konflik. Hal ini memicu gelombang pengunduran diri dan keengganan memperpanjang kontrak.
"Saya pikir saya akan segera pulang, tetapi sekarang kami masih terjebak di dekat Selat Hormuz tanpa rencana masa depan yang jelas," kata seorang pelaut.
"Setiap hari keluarga saya bertanya kapan saya akan kembali, tetapi saya tidak punya jawaban."
Diplomasi Internasional
Lembaga data maritim Kpler mencatat sekitar 750 kapal berhasil melintas keluar sejak 28 Februari melalui skema diplomasi khusus.
Analis CNA, Dr Jonathan Schroden, menyebut kapal-kapal yang lolos mayoritas dari China, India, dan Pakistan yang bernegosiasi langsung dan membayar kompensasi jutaan dolar per kapal.
Pemerintah Bangladesh bersama Bangladesh Shipping Corporation (BSC) sempat menginisiasi upaya serupa.
Namun, Direktur Pelaksana BSC, Komodor Mahmudul Malek, menyatakan rencana pembayaran kompensasi dibatalkan karena ancaman sanksi ekonomi dari AS.
>>> Jadwal Live Streaming Moto3 Hungaria 7 Juni 2026: Veda Ega Pratama Start ke-9
"Kami sekarang berada dalam krisis ganda," katanya.