Selat Hormuz, jalur pelayaran vital global, lumpuh akibat ketegangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026.
Sekitar 20.000 pelaut dari berbagai negara terisolasi di perairan tersebut.
>>> Timnas Indonesia U-19 Hadapi Vietnam di Laga Penentu Juara Grup A Piala AFF U-19 2026
Aktivitas militer intensif, termasuk peluncuran rudal dan penyebaran ranjau laut, membuat kapal-kapal komersial tidak bisa keluar. Suasana di atas kapal diselimuti kecemasan tinggi.
"Benar-benar aneh bahwa segala sesuatu terlihat normal di luar, tetapi orang-orang di dalam tidak tenang," kata seorang pelaut asal Pakistan yang enggan disebut namanya.
Upaya Keluar Gagal Total
Organisasi Maritim Internasional (IMO) memperkirakan 1.600 kapal komersial masih terperangkap. Iran menutup satu-satunya jalan keluar dari Teluk setelah konfrontasi bersenjata dimulai.
Kapten Shafiqul Islam, nakhoda kapal Banglar Joyjatra asal Bangladesh, mengaku dua kali berusaha keluar. Upaya pertama saat gencatan senjata 8 April dihentikan Garda Revolusi Iran (IRGC).
Upaya kedua sembilan hari kemudian juga gagal karena Iran membatalkan pembukaan jalur.
"Seolah-olah kami terjebak di sebuah kolam. Hanya ada satu jalan keluar, dan itu adalah Hormuz," ujar Kapten Shafiqul.
Harga Air Bersih Melonjak Drastis
Selain ancaman militer, armada kapal menghadapi krisis logistik. Meski pengiriman dari Dubai, Abu Dhabi, dan Kuwait masih berjalan, distribusi tidak menentu.
Kepala Kamar Mesin Kapal Banglar Joyjatra, Rashedul Hasan, mengungkapkan harga air bersih melonjak drastis. "Kami membeli 180 ton air dua hari lalu.
Sebelumnya biayanya US$1.500–US$2.000, sekarang menjadi US$11.000."
Sejumlah pemasok makanan dan air diduga mengambil keuntungan berlebihan dari situasi ini, menurut seorang pelaut Korea yang tidak disebutkan namanya.
Korban Jiwa dan Trauma Psikologis
Konflik telah memakan korban jiwa di kalangan pelaut sipil. IMO memverifikasi 39 insiden yang menyebabkan sedikitnya 11 pelaut tewas dan satu orang hilang.
>>> SMAN 1 Pangkalan Bun Juara LKBB-PB Tingkat Provinsi Kalteng
"Kadang-kadang rudal melintas di atas satu kapal, dan kadang-kadang puing-puing jatuh ke kapal berikutnya," kata Kapten Shafiqul.