Pemerintah Amerika Serikat berkomitmen mengalihkan aset milik Iran kepada negara-negara Teluk. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai pembangunan kembali dan perbaikan kerusakan wilayah.
Langkah ini direncanakan setelah Iran kembali meluncurkan serangan drone ke Bahrain dan Kuwait pada Sabtu (6/6/2026).
>>> Kemenperin Targetkan Industri Keramik RI Tembus Empat Besar Dunia
Sebuah tim khusus kini tengah menghitung total biaya kerugian yang dialami sekutu AS di kawasan Teluk.
Perintah penghitungan dikeluarkan langsung oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Informasi ini dilansir dari Detik Finance yang mengutip CNBC International pada Minggu (7/6/2026).
Pemanfaatan aset Iran juga akan dipertimbangkan untuk menanggulangi dampak kerusakan dari serangan-serangan lain di masa depan.
Rencana ini mencuat di tengah ketegangan kesepakatan gencatan senjata yang kian rapuh akibat aksi saling serang di akhir pekan.
Mediasi Damai Buntu
Upaya mediasi sebetulnya sempat berjalan melalui utusan menteri dari Pakistan. Mereka membawa surat untuk pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei pada hari Sabtu.
>>> Jadwal Indonesia U19 vs Vietnam U19 di Piala AFF U19 2026, 7 Juni
Namun, proses negosiasi damai tersebut tampaknya menemui jalan buntu.
Kondisi di Selat Hormuz juga memanas setelah pasukan militer AS menggempur situs radar pesisir Iran di Goruk dan Pulau Qesh pada Sabtu dini hari.
Tindakan ofensif ini diambil setelah mereka berhasil menembak jatuh drone yang dikirim oleh pihak Iran.
Keamanan jalur maritim internasional menjadi alasan utama peningkatan operasi militer AS di kawasan perairan tersebut. Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), serangan Iran mengancam lalu lintas maritim.
Pihak militer AS juga menyatakan bahwa mereka kembali menembak jatuh dua drone tempur Iran lainnya yang dinilai mengancam pelayaran di selat tersebut.
>>> Timnas Indonesia Fokus Pemulihan Fisik Jelang Lawan Mozambik
Penjagaan ketat terus diterapkan di sepanjang jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.